reading...... korean 0

Moch Hasan | 10:22 |

look at that old women, she is just house wife.
not looks like scholar or something, but what she did just before riding " humetro subway".....

reading.....

compare to us... the youth one...
what we have done??? how we spent our time?


just make it clear......

Berbau Halal dan Suci saja Sudah Begitu Nikmat, Apalagi… 0

Moch Hasan | 09:43 |


Setelah anugrah itu lenyap, barulah kita merasakan begitu berharganya dan begitu besarnya nilai anugrah itu. Meskipun kita sebelumnya menyepelekannya dan menganggap hal itu sebagai yang biasa saja. Ah.. begitulah nature dari seorang manusia. Tidak perlu disesali. Hanya dinikmati dan diapresiasi.
Di negeri gingseng, tepatnya di kota Busan Korea Selatan, kaum muslim termasuk komunitas minoritas. Oleh sebab itu jangan heran, kalau mau mencari “hal-hal” halal dan suci 100% akan sangat sulit. Ngak bakalan nemu. Daging halal, makanan halal, minuman halal, tempat suci sulit dijumpai. Terlebih kalau kita satu apartemen dengan saudara non-muslim, Kesucian akan sangat mahal. Lha… bagaimana tidak? peralatan dapur yang digunakan sama, tempat pencucian sama, dan semua fasilitas digunakan bersama. Oleh sebab itu, kesucian dan kehalalan merupakan hal langka dan mahal.


Di negeri yang penduduk muslimnya minoritas, mungkin kita tidak akan bisa bertahan kalau memaksakan diri untuk berhalal-halalan 100%. Lain ceritanya kalau memang bersedia menyendiri dari lingkungan sosial dan masyarakat. Dan tentu saja itu termasuk pilihan yang tidak bijaksana, paling tidak menurut pribadi saya. Kebanyakan makanan di sini mengunakan daging babi, baik itu dalam bentuk minyak atau daging secara fisik. Sekarang misalnya kalau kita makan di kafetaria, tentu makanan yang kita makan pasti tidak suci, meskipun kita hanya memilih sayur-sayuran atau ikan-ikanan, sehingga kehalalanya pun dipertanyakan. Perlu diingat bahwa sup dan sayuran dimasak dalam dapur sama, di tempat dan dengan peralatan dapur yang sama dengan dimasaknya daging babi. Kalau sudah begini mau halal darimana? Kalau masak sendiri jika disediakan dapur, mungkin akan sedikit terjamin kehalalanya. Tapi tetap saja kita akan mengunakan dapur dan peralatan yang sama. Memang akan lain ceritanya jika hanya tinggal sendiri, tapi itu akan membutuhkan banyak pengorbanan, baik materi maupun immateri, terutama untuk kaum pekerja ataupun mahasisiwa.
Oleh karena itu, saya secara pribadi tidak terlalu mengharapkan, apalagi menjamin untuk mampu makan hidangan 100% halal. Mungkin yang bisa dilakukan adalah menjaga makanan yang kita makan berbau-bau halal. Paling tidak, saya tidak makan babi ataupun daging lain dan kalaupun ingin yang lebih aman menjadi vegetarian sementara. Saya punya pengalaman menarik. Suatu ketika saya makan kafetaria kampus, tidak tersedia makanan tanpa babi kecuali kimcin, lalapan dari gubis yang difermentasi. Akhirnya saya makan nasi sama kimcin saja. Selang beberapa menit, ibu dapur datang dan ngomong “icmida…isoyo…kon… sokogi…”, saya tersenyum dan menjawab, ”it’s okay… fine for me, no thanks ”karena memang ngak tahu apa yang diomongkannya. Tapi selang semenit, ibu tersebut membawa satu bungkus rumput laut dan memberikannya pada saya untuk lauk. “thank you, gamsinida…” saya tersenyum senang.
Tidak jauh beda dengan kesucian untuk sholat. Mencari tempat suci untuk bersembahyang juga sulit. Karena itu, secara pribadi, saya melakukan sholat di manapun, bisa di dalam kelas, bisa di taman, tempat kongkow, ataupun di parkiran. Memang, saya tidak menyakini bahwa tempat-tempat tersebut suci. Tapi ya… begitulah paling tidak, sudah berbau-bau suci. Bermodalkan dua lembar koran yang digunakan alas, saya bersujud untuk sholat. Ada satu pengalaman satu lagi, pada suatu saat saya mau bersembahyang di belakang parkiran yang kebetulan sudah sepi. Tapi sesesat mau meletakkan koran, seorang satpam kampus dating menegur untuk pergi. “Jangan di situ, kamu siapa? Apa yang kamu lakukan? Pergi… Cepat..”, mungkin begitu omoganya. Saya hanya melonggo sambil tersenyum pergi. Ah…, ya sudah saya akhirnya berkeringat ria naik ke atas atap gedung lantai lima untuk bersembahyang.
Menikmati makanan halal dan bisa sholat di tempat yang patut sering kali tidak kita anggap kenikmatan berarti. Tapi begitu hal itu pergi, kita baru merasa nilai atas kenikmatan itu. Sepertihalnya yang ditulis di buku Pak Menkew ” kelangkaan dan kemanfaatanlah yang membuat suatu hal itu bernilai”. Ahh…

Reformasi Birokrasi..., Naik Gaji Saja Tidak Cukup 0

Moch Hasan | 05:41 |



Terungkapnya drama makelar kasus yang menempatkan Gayus Tambunan sebagai aktor utamanya menambah daftar panjang catatan hitam akan korupsi di nusantara ini. Gayus Tambunan yang hanya pegawai golongan IIIA ditengarahi memiliki kekayaan yang tidak tanggung-tanggung, yakni 25 milyar. Kekayaan sejumlah ini merupakan jumlah yang begitu fantastis untuk seorang Gayus. Tidak ayal, begitu kasus ini mencuat ke publik nama gayus langsung menjadi buah bibir masyarakat luas, terlebih kasus ini terkait dengan pengelolaan dana publik. Selain itu, didenggungkanya reformasi birokrasi oleh depkeu menjadi pemacu special meledaknya kasus ini. Pada satu titik lain, kasus ini bisa menjadi bahan refleksi atas efektivitas pelaksanaan reformasi birokrasi yang dijalankan di departemen keuangan. Terlebih pasca-kelantangan peryataan mentri keuangan terkait dengan pajak satu bulan yang lalu “ Isi SPT saudara, kalau ada korupsi di departemen keuangan saya bertanggung jawab”.


Munculnya drama makelar kasus ini seakan menjadi tamparan serius bagi proses reformasi birokrasi di lingkungan departemen keuangan. Tidak hanya itu, kasus ini juga mengindikasikan bahwa kenaikan gaji atau pay off bagi pegawai negeri tidaklah cukup manjur untuk mengatasi sindrom korupsi di birokrasi pemerintahan. Lantas bagaimana epidemik korupsi ini dibersihkan? Sebagian kalangan megetengahkan pemberlakuan hukuman mati bagi koruptor. Selain itu, ditekankan pula penerapan zero tolerance priciple pada usaha pemberantasan korupsi. Artinya dalam pemberantasan korupsi tidak mengenal pemberlakuan istimewa terhadap sebagian kalangan yang dianggap telah berjasa bagi negeri ini. Okelah, mungkin faktor-faktor yang disebutkan terlebih dahulu memang memberikan konstribusi bagi pemberantasan korupsi di Indonesia, tapi perlu dipikirkan ulang efektivitas penerapanya.
Penerepan prinsip stick and carrot pada pemberatasan korupsi memang diperlukan. Tanpa adanya penerapan prisip ini, upaya pemberantasan korupsi sama saja omong kosong, tanpa arti apapun. Tapi menurut hemat saya, penerapan prinsip ini tidaklah cukup. Diperlukan motivasi lain yang menggerakan pemberantasan korupsi di Indonesia. Merujuk pada teori motivasi herzberg, kompensasi yang berupa pay off yang dinyatakan dalam kenaikan gaji bukanlah satu bentuk motivasi melainkan hygiene. Artinya kenaikan gaji merupakan salah satu keharusan dalam reformasi birokrasi, tetapi kenaikan gaji tidak memberikan rasa kepuasan dalam bekerja. Oleh sebab itulah, terdorong terjadinya korupsi. Sering kali kita beranggapan bahwa kesalahan korupsi hanya harus dilimpahkan pada pejabat yang melakukan korupsi. Saya tidak mengatakan bahwa anggapan itu benar atau salah. Tapi menurut hemat saya, lebih baiknya ditinjau dulu sistem operasional birokrasi yang ada. Kalau ternyata sistem yang ada mendukung adnya korupsi hal itu harus dibenahi terlebih dahulu. Selain itu, penerapan sistem motivasi merupakan suatu bentuk pencegahan dalam tindak pidana korupsi. Penerapan sistem motivasi bisa memacu kepuasan kerja para aparatur negara yang pada akhirnya akan memberikan dampak positif bagi upaya pemberantasan korupsi.


 
Just Other Story Copyright © 2010 Prozine Theme is Designed by Lasantha Home | RSS Feed | Comment RSS