
Setelah anugrah itu lenyap, barulah kita merasakan begitu berharganya dan begitu besarnya nilai anugrah itu. Meskipun kita sebelumnya menyepelekannya dan menganggap hal itu sebagai yang biasa saja. Ah.. begitulah nature dari seorang manusia. Tidak perlu disesali. Hanya dinikmati dan diapresiasi.
Di negeri gingseng, tepatnya di kota Busan Korea Selatan, kaum muslim termasuk komunitas minoritas. Oleh sebab itu jangan heran, kalau mau mencari “hal-hal” halal dan suci 100% akan sangat sulit. Ngak bakalan nemu. Daging halal, makanan halal, minuman halal, tempat suci sulit dijumpai. Terlebih kalau kita satu apartemen dengan saudara non-muslim, Kesucian akan sangat mahal. Lha… bagaimana tidak? peralatan dapur yang digunakan sama, tempat pencucian sama, dan semua fasilitas digunakan bersama. Oleh sebab itu, kesucian dan kehalalan merupakan hal langka dan mahal.
Di negeri yang penduduk muslimnya minoritas, mungkin kita tidak akan bisa bertahan kalau memaksakan diri untuk berhalal-halalan 100%. Lain ceritanya kalau memang bersedia menyendiri dari lingkungan sosial dan masyarakat. Dan tentu saja itu termasuk pilihan yang tidak bijaksana, paling tidak menurut pribadi saya. Kebanyakan makanan di sini mengunakan daging babi, baik itu dalam bentuk minyak atau daging secara fisik. Sekarang misalnya kalau kita makan di kafetaria, tentu makanan yang kita makan pasti tidak suci, meskipun kita hanya memilih sayur-sayuran atau ikan-ikanan, sehingga kehalalanya pun dipertanyakan. Perlu diingat bahwa sup dan sayuran dimasak dalam dapur sama, di tempat dan dengan peralatan dapur yang sama dengan dimasaknya daging babi. Kalau sudah begini mau halal darimana? Kalau masak sendiri jika disediakan dapur, mungkin akan sedikit terjamin kehalalanya. Tapi tetap saja kita akan mengunakan dapur dan peralatan yang sama. Memang akan lain ceritanya jika hanya tinggal sendiri, tapi itu akan membutuhkan banyak pengorbanan, baik materi maupun immateri, terutama untuk kaum pekerja ataupun mahasisiwa.
Oleh karena itu, saya secara pribadi tidak terlalu mengharapkan, apalagi menjamin untuk mampu makan hidangan 100% halal. Mungkin yang bisa dilakukan adalah menjaga makanan yang kita makan berbau-bau halal. Paling tidak, saya tidak makan babi ataupun daging lain dan kalaupun ingin yang lebih aman menjadi vegetarian sementara. Saya punya pengalaman menarik. Suatu ketika saya makan kafetaria kampus, tidak tersedia makanan tanpa babi kecuali kimcin, lalapan dari gubis yang difermentasi. Akhirnya saya makan nasi sama kimcin saja. Selang beberapa menit, ibu dapur datang dan ngomong “icmida…isoyo…kon… sokogi…”, saya tersenyum dan menjawab, ”it’s okay… fine for me, no thanks ”karena memang ngak tahu apa yang diomongkannya. Tapi selang semenit, ibu tersebut membawa satu bungkus rumput laut dan memberikannya pada saya untuk lauk. “thank you, gamsinida…” saya tersenyum senang.
Tidak jauh beda dengan kesucian untuk sholat. Mencari tempat suci untuk bersembahyang juga sulit. Karena itu, secara pribadi, saya melakukan sholat di manapun, bisa di dalam kelas, bisa di taman, tempat kongkow, ataupun di parkiran. Memang, saya tidak menyakini bahwa tempat-tempat tersebut suci. Tapi ya… begitulah paling tidak, sudah berbau-bau suci. Bermodalkan dua lembar koran yang digunakan alas, saya bersujud untuk sholat. Ada satu pengalaman satu lagi, pada suatu saat saya mau bersembahyang di belakang parkiran yang kebetulan sudah sepi. Tapi sesesat mau meletakkan koran, seorang satpam kampus dating menegur untuk pergi. “Jangan di situ, kamu siapa? Apa yang kamu lakukan? Pergi… Cepat..”, mungkin begitu omoganya. Saya hanya melonggo sambil tersenyum pergi. Ah…, ya sudah saya akhirnya berkeringat ria naik ke atas atap gedung lantai lima untuk bersembahyang.
Menikmati makanan halal dan bisa sholat di tempat yang patut sering kali tidak kita anggap kenikmatan berarti. Tapi begitu hal itu pergi, kita baru merasa nilai atas kenikmatan itu. Sepertihalnya yang ditulis di buku Pak Menkew ” kelangkaan dan kemanfaatanlah yang membuat suatu hal itu bernilai”. Ahh…