<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2208840507222773945</id><updated>2011-07-28T19:14:32.147-07:00</updated><category term='pemilu'/><category term='karawitan'/><category term='ekonomi kebo'/><category term='islam'/><category term='liburan'/><category term='ra weruh wong edan'/><category term='eling'/><category term='menejemen'/><category term='lomba'/><category term='jawa'/><title type='text'>Just Other Story</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://tempekremes.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2208840507222773945/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tempekremes.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Moch Hasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15068450408359458490</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>32</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2208840507222773945.post-8622327344147660018</id><published>2010-10-22T10:22:00.001-07:00</published><updated>2011-04-22T04:17:20.915-07:00</updated><title type='text'>reading...... korean</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_aWck1ZC3J-8/TMHIeF1tlRI/AAAAAAAAAKE/8DLk-RDVac0/s1600/SAM_0095.JPG"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_aWck1ZC3J-8/TMHIeF1tlRI/AAAAAAAAAKE/8DLk-RDVac0/s320/SAM_0095.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5530922236676773138" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;look at that old women, she is just house wife.&lt;br /&gt;not looks like scholar or something, but what she did just before riding " humetro subway".....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;reading.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;compare to us... the youth one...&lt;br /&gt;what we have done??? how we spent our time?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;just make it clear......&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2208840507222773945-8622327344147660018?l=tempekremes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tempekremes.blogspot.com/feeds/8622327344147660018/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tempekremes.blogspot.com/2010/10/reading-korean.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2208840507222773945/posts/default/8622327344147660018'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2208840507222773945/posts/default/8622327344147660018'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tempekremes.blogspot.com/2010/10/reading-korean.html' title='reading...... korean'/><author><name>Moch Hasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15068450408359458490</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_aWck1ZC3J-8/TMHIeF1tlRI/AAAAAAAAAKE/8DLk-RDVac0/s72-c/SAM_0095.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2208840507222773945.post-945458500319738265</id><published>2010-09-18T09:43:00.000-07:00</published><updated>2010-09-18T09:47:17.851-07:00</updated><title type='text'>Berbau Halal dan Suci saja Sudah Begitu Nikmat, Apalagi…</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_aWck1ZC3J-8/TJTtA4NUixI/AAAAAAAAAJc/tNjhFXPua34/s1600/halal-side-logo.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 170px; height: 90px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_aWck1ZC3J-8/TJTtA4NUixI/AAAAAAAAAJc/tNjhFXPua34/s320/halal-side-logo.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5518296042779740946" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Setelah anugrah itu lenyap, barulah kita merasakan begitu berharganya dan begitu besarnya nilai anugrah itu. Meskipun kita sebelumnya menyepelekannya dan menganggap hal itu sebagai yang biasa saja. Ah.. begitulah nature dari seorang manusia. Tidak perlu disesali. Hanya dinikmati dan diapresiasi.&lt;br /&gt; Di negeri gingseng, tepatnya di kota Busan Korea Selatan, kaum muslim termasuk komunitas minoritas. Oleh sebab itu jangan heran, kalau mau mencari “hal-hal” halal dan suci 100% akan sangat sulit. Ngak bakalan nemu. Daging halal, makanan halal, minuman halal, tempat suci sulit dijumpai. Terlebih kalau kita satu apartemen dengan saudara non-muslim, Kesucian akan sangat mahal. Lha… bagaimana tidak? peralatan dapur yang digunakan sama, tempat pencucian sama, dan semua fasilitas digunakan bersama. Oleh sebab itu, kesucian dan kehalalan merupakan hal langka dan mahal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di negeri yang penduduk muslimnya minoritas, mungkin kita tidak akan bisa bertahan kalau memaksakan diri untuk berhalal-halalan 100%. Lain ceritanya kalau memang bersedia menyendiri dari lingkungan sosial dan masyarakat. Dan tentu saja itu termasuk pilihan yang tidak bijaksana, paling tidak menurut pribadi saya. Kebanyakan makanan di sini mengunakan daging babi, baik itu dalam bentuk minyak atau daging secara fisik. Sekarang misalnya kalau kita makan di kafetaria, tentu makanan yang kita makan pasti tidak suci, meskipun kita hanya memilih sayur-sayuran atau ikan-ikanan, sehingga kehalalanya pun dipertanyakan. Perlu diingat bahwa sup dan sayuran dimasak dalam dapur sama, di tempat dan dengan peralatan dapur yang sama dengan dimasaknya daging babi. Kalau sudah begini mau halal darimana? Kalau masak sendiri jika disediakan dapur, mungkin akan sedikit terjamin kehalalanya. Tapi tetap saja kita akan mengunakan dapur dan peralatan yang sama. Memang akan lain ceritanya jika hanya tinggal sendiri, tapi itu akan membutuhkan banyak pengorbanan, baik materi maupun immateri, terutama untuk kaum pekerja ataupun mahasisiwa.&lt;br /&gt; Oleh karena itu, saya secara pribadi tidak terlalu mengharapkan, apalagi menjamin untuk mampu makan hidangan 100% halal. Mungkin yang bisa dilakukan adalah menjaga makanan yang kita makan berbau-bau halal. Paling tidak, saya tidak makan babi ataupun daging lain dan kalaupun ingin yang lebih aman menjadi vegetarian sementara. Saya punya pengalaman menarik. Suatu ketika saya makan kafetaria kampus, tidak tersedia makanan tanpa babi kecuali kimcin, lalapan dari gubis yang difermentasi. Akhirnya saya makan nasi sama kimcin saja. Selang beberapa menit, ibu dapur datang dan ngomong “icmida…isoyo…kon… sokogi…”, saya tersenyum dan menjawab, ”it’s okay… fine for me, no thanks ”karena memang ngak tahu apa yang diomongkannya. Tapi selang semenit, ibu tersebut membawa satu bungkus rumput laut dan memberikannya pada saya untuk lauk. “thank you, gamsinida…” saya tersenyum senang.&lt;br /&gt;Tidak jauh beda dengan kesucian untuk sholat. Mencari tempat suci untuk bersembahyang juga sulit. Karena itu, secara pribadi, saya melakukan sholat di manapun, bisa di dalam kelas, bisa di taman, tempat kongkow, ataupun di parkiran. Memang, saya tidak menyakini bahwa tempat-tempat tersebut suci. Tapi ya… begitulah paling tidak, sudah berbau-bau suci. Bermodalkan dua lembar koran yang digunakan alas, saya bersujud untuk sholat. Ada satu pengalaman satu lagi, pada suatu saat saya mau bersembahyang di belakang parkiran yang kebetulan sudah sepi. Tapi sesesat mau meletakkan koran, seorang satpam kampus dating menegur untuk pergi. “Jangan di situ, kamu siapa? Apa yang kamu lakukan? Pergi… Cepat..”, mungkin begitu omoganya. Saya hanya melonggo sambil tersenyum pergi. Ah…, ya sudah saya akhirnya berkeringat ria naik ke atas atap gedung lantai lima untuk bersembahyang.&lt;br /&gt; Menikmati makanan halal dan bisa sholat di tempat yang patut sering kali tidak kita anggap kenikmatan berarti. Tapi begitu hal itu pergi, kita baru merasa nilai atas kenikmatan itu. Sepertihalnya yang ditulis di buku Pak Menkew ” kelangkaan dan kemanfaatanlah yang membuat suatu hal itu bernilai”. Ahh…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2208840507222773945-945458500319738265?l=tempekremes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tempekremes.blogspot.com/feeds/945458500319738265/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tempekremes.blogspot.com/2010/09/berbau-halal-dan-suci-saja-sudah-begitu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2208840507222773945/posts/default/945458500319738265'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2208840507222773945/posts/default/945458500319738265'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tempekremes.blogspot.com/2010/09/berbau-halal-dan-suci-saja-sudah-begitu.html' title='Berbau Halal dan Suci saja Sudah Begitu Nikmat, Apalagi…'/><author><name>Moch Hasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15068450408359458490</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_aWck1ZC3J-8/TJTtA4NUixI/AAAAAAAAAJc/tNjhFXPua34/s72-c/halal-side-logo.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2208840507222773945.post-8044948564541487123</id><published>2010-04-09T05:41:00.000-07:00</published><updated>2011-04-22T04:17:11.290-07:00</updated><title type='text'>Reformasi Birokrasi..., Naik Gaji Saja Tidak Cukup</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terungkapnya drama makelar kasus yang menempatkan Gayus Tambunan sebagai aktor utamanya menambah daftar panjang catatan hitam akan korupsi di nusantara ini. Gayus Tambunan yang hanya pegawai golongan IIIA ditengarahi memiliki kekayaan yang tidak tanggung-tanggung, yakni  25 milyar. Kekayaan sejumlah ini merupakan jumlah yang begitu fantastis untuk seorang Gayus. Tidak ayal, begitu kasus ini mencuat ke publik nama gayus langsung menjadi buah bibir masyarakat luas, terlebih kasus ini terkait dengan pengelolaan dana publik. Selain itu, didenggungkanya reformasi birokrasi oleh depkeu menjadi pemacu special meledaknya kasus ini. Pada satu titik lain, kasus ini bisa menjadi bahan refleksi atas  efektivitas pelaksanaan reformasi birokrasi yang dijalankan di departemen keuangan. Terlebih pasca-kelantangan peryataan mentri keuangan terkait dengan pajak satu bulan yang lalu “ Isi SPT saudara, kalau ada korupsi di departemen keuangan saya bertanggung jawab”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Munculnya drama makelar kasus ini seakan menjadi tamparan serius bagi proses reformasi birokrasi di lingkungan departemen keuangan. Tidak hanya itu, kasus ini juga mengindikasikan bahwa kenaikan gaji atau pay off bagi pegawai negeri tidaklah cukup manjur untuk mengatasi sindrom korupsi di birokrasi pemerintahan. Lantas bagaimana epidemik korupsi ini dibersihkan? Sebagian kalangan megetengahkan pemberlakuan hukuman mati bagi koruptor. Selain itu, ditekankan pula penerapan zero tolerance priciple pada usaha pemberantasan korupsi. Artinya dalam pemberantasan korupsi tidak mengenal pemberlakuan istimewa terhadap sebagian kalangan yang dianggap telah berjasa bagi negeri ini. Okelah, mungkin faktor-faktor yang disebutkan terlebih dahulu memang memberikan konstribusi bagi pemberantasan korupsi di Indonesia, tapi perlu dipikirkan ulang efektivitas penerapanya.&lt;br /&gt; Penerepan prinsip stick and carrot pada pemberatasan korupsi memang diperlukan. Tanpa adanya penerapan prisip ini, upaya pemberantasan korupsi sama saja omong kosong, tanpa arti apapun. Tapi menurut hemat saya, penerapan prinsip ini tidaklah cukup. Diperlukan motivasi lain yang menggerakan pemberantasan korupsi di Indonesia. Merujuk pada teori motivasi herzberg, kompensasi yang berupa pay off yang dinyatakan dalam kenaikan gaji bukanlah satu bentuk motivasi melainkan hygiene. Artinya kenaikan gaji merupakan salah satu keharusan dalam reformasi birokrasi, tetapi kenaikan gaji tidak memberikan rasa kepuasan dalam bekerja. Oleh sebab itulah, terdorong terjadinya korupsi. Sering kali kita beranggapan bahwa kesalahan korupsi hanya harus dilimpahkan pada pejabat yang melakukan korupsi. Saya tidak mengatakan bahwa anggapan itu benar atau salah. Tapi menurut hemat saya, lebih baiknya ditinjau dulu sistem operasional birokrasi yang ada. Kalau ternyata sistem yang ada mendukung adnya korupsi hal itu harus dibenahi terlebih dahulu. Selain itu, penerapan sistem motivasi merupakan suatu bentuk pencegahan dalam tindak pidana korupsi. Penerapan sistem motivasi bisa memacu kepuasan kerja para aparatur negara yang pada akhirnya akan memberikan dampak positif bagi upaya pemberantasan korupsi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2208840507222773945-8044948564541487123?l=tempekremes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tempekremes.blogspot.com/feeds/8044948564541487123/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tempekremes.blogspot.com/2010/04/reformasi-birokrasi-naik-gaji-saja.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2208840507222773945/posts/default/8044948564541487123'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2208840507222773945/posts/default/8044948564541487123'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tempekremes.blogspot.com/2010/04/reformasi-birokrasi-naik-gaji-saja.html' title='Reformasi Birokrasi..., Naik Gaji Saja Tidak Cukup'/><author><name>Moch Hasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15068450408359458490</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2208840507222773945.post-2209777019704800411</id><published>2010-02-03T08:31:00.000-08:00</published><updated>2010-02-03T08:34:18.335-08:00</updated><title type='text'>Sistem kridit Semalam</title><content type='html'>Title “mahasiswa” ternyata tidak sertamerta menjadikan kita lebih dewasa, lebih mampu bersikap, dan terutama lebih mampu memanfaatkan waktu. Mereka, mahasiswa yang dianggap sudah mencapai tingkat kedewasaan, ternyata tidak jauh berbeda dengan pelajar tingkat dasar atau menengah. Kedewasaan yang diukur dengan bertambahnya umur, meningkatnya intelektualitas, dan kemandirian diri, baik itu dari segi finansial maupun sosial ternyata tidak serta merta merubah tabiat mahasiswa. Buktinya ya sks itu… tidak perlu mencari contoh jauh-jauh. misalnya teman dekat satu kosan dengan saya dan saya sendiri (suara merindik). Padahal ratusan tahun lalu mbah benjamin asal paklik Sam pernah mengatakan kiat kesuksesannya, ” never say tomorrow what can be done today”. Akan tetapi ya… begitulah, tetap saja sks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kalau dilihat lebih cermat, sks bukanlah suatu yang pasti hitam, pasti salah. Tidak, itu tidak benar. Pada tataran tertentu, sks merupakan keahlian khusus. Maksudnya kemampuan untuk melakukan sks, merupakan nilai tambah bagi pengunanya. Mau bukti… ? di saat ujian sesemter kurang satu minggu, saya bertanya pada kawan saya,” Dul, sampean dah ada bahan untuk intermediate financial accounting ngak, contoh-contoh soal kek?” namanya Abdul, dia sedaerah, sama-sama asli jawa.&lt;br /&gt;“belum ada…, besok kamis aja cari di kopian Lentera, kalau hari ini males mau cari kopian…, masih rame”, Abdul keluar pintu kampus bagian barat. “Kon wae Wul. Kamu sajalah yang cari dulu, nanti aku kopi darimu… Oke?” Abdul mengacungkan jempol jarinya. Senyumanya mengambang. Kecut.&lt;br /&gt;“Ndasmu kuwi Cukkk… cuk. kon penak-penaan bali nang kosan, aku mbok kon golek kopian, rupamu… ha..ha..”, aku menoleh ke arah Abdul. Dia mengumbar senyum. Senyum kejujuran.&lt;br /&gt;Setelah satu jam berdiri antri, tiga kopian soal semester dan kopian draf IFRS sudah ditangan. ”ini Bang…”, saya menyerahkan dua lembar lima ribuan. “terimaksih Bang”, saya menerima kembalian satu lembar uang dua ribuan. Aku melengang keluar, ah… lumayan bisa buat bahan untuk ujian. Jarum jam menunjukan pukul enam kurang lima menit. Di pikiranku hanya terngiang, “pulang…, makan…, shalat…, tidur… huh…”.&lt;br /&gt;“Tittt..tit….titttttt” jam alarm HP buntut berbunyi merusak ketentraman tidur. Kututup kepalaku dengan bantal. “Heh….eh” aku ambil HPku, kupasang alarm 30 menit lagi. Kalau tidak salah, ini sudah kali kelima aku undur bunyi alramku, berarti 2,5 jam lewat dari rencana awal. “gek arep tangi jam piro…? Meh subuhan kae. Ni…, aku tadi beli gorengan pisang”, Abdul menyodorkan sepiring pisang goreng. “hem..hemm….” aku merem melek dengan senyum mengembang. “wudhu sana, kalo masih ingat gusti Allah yo shalat dahulu”, aku mengambil gorengan dan menuju kamar mandi.&lt;br /&gt;“Dul… wes rampung nomer piro?”, aku berselonjor di depan Abdul, nyruput teh celup.&lt;br /&gt;“Wul…, sudah lihat silabus belum?” Abdul melirik ke arahku. Manusia ini ditanya kok malah ganti bertanya. Tapi aneh juga, satu semester sudah hampir lewat, kuliah dosen sudah habis. Tinggal ujian besok senin. Dan aku belum melihat silabus. Uh…&lt;br /&gt;“belum, emang ada apa?” aku menyomot satu pisang goreng. Mulutku menguap masih ngantuk. “ Lihat dulu deh… kalau menurut silabus ada tugas akhir semester. Sepertinya disuruh mengerjakan tugas dari asisten dosen. Kalau menurut silabus ada 4 tugas dan dikumpulkan satu sebelum minggu semester”&lt;br /&gt;Aku hanya melirik Abdul, mulutku membentuk huruf ‘O’ dan “ooo… terus kenapa?” aku mengambil bantal leyehan sambil membaca lembaran kopian soal&lt;br /&gt;“kayaknya asdos kita ngak pernah kasih tugas deh… emang kon wes pernah mengumpulkan tugas?” mata Abdul terlihat serius. Aku mengeleng, ”lha kalau kamu saja belum mengumpulkan, apalagi aku tho Dul?” aku mencoret-coret lembaran kertas, hah… satu soal selesai. ”kalau tidak pernah dikasih tugas berarti ya… ngak ada tugas. Gitu aja kok bingung sampean iki Dul…”&lt;br /&gt;“kon eruh ko endi? Ada yang ngomong begitu…?”&lt;br /&gt;“tidak ada. insting manusia sakti… ha…ha… ha… tapi kadang-kadang instingku salah. Ya… kamu tanya yang lainlah…” aku sendiri tidak yakin tidak ada tugas, mungkin aku dan Abdul saja yang kurang info. Tapi ya… sudahlah,” sudahlah Dul…, pikir nanti saja. Besok ada tambahan asis ngak?”&lt;br /&gt;“ngak ada, kemarin waktu kamu cabut asis terakir” Abdul hanyut dalam bukunya sendiri. Aku sendiri meneruskan mengerjakan soal selanjutnya.&lt;br /&gt;“Wull….Kriwull.. tangi…tangi… ini ada jarkom dari Ridlo. katanya ada asistensi terakir…. OE…OE… bangun” suara Abdul terdengar cempereng,” ya..ya…. yo…yo….”mataku masih ngriyip-ngriyip. “Aku mandi dulu…” suara Abdul terdegar dari kamar mandi. Aku melihat HP buntutku. “uh… sudah pukul 11 siang lebih”. Aku bangun. menunggu antri mandi makan pisang goreng yang masih tersisa tadi malam. Nyam….&lt;br /&gt;Kelas terakhir sebelum ujian memang terlihat berbeda. Paling tidak telihat antusiaisme yang terpampang dari muka-muka mahasiswa. Termasuk mahasiswa agak pemalas seperti Abdul dan aku (lirih). Mungkin hadist nabi yang menganjurkan makan sampai remahan terakir karena keberkahan makanan biasanya ada di remahan terakhir sepertinya cocok dan sesuai dengan kelas kali ini. Bedanya kelas akhir biasanya memberi gambaran samar-samar tentang soal yang besok diujikan. Maklumlah ujian semester merupakan suatu yang sakral bagi kami. Di semesteranlah nasib kami banyak ditentukan. That is why the last class is so special to us, tidak terkucuali kelas hari ini. Tapi tentu saja, the last class tidak selalu sesuai dengan harapan kita semua.&lt;br /&gt;“ehemm…” suara Kak Rio, asdos kelas kami,”sudah pada lihat silabus kan…?” matanya agak redup sepeti dokter yang mau menjatuhkan vonis kepada pasiennya. Wajahnya sayup santun tapi terlihat sorot matanya yang penuh ketegaan. Tidak ada kompromi, tidak ada tawar-menawar.”saya fair aja… jadi berdasarkan kesepakatan bersama…” glek… glek… terdengar sebagian besar teman satu kelas menelan ludah, “ kalian harus mengerjakan 4 tugas akhir”&lt;br /&gt;“ha……. Wah……” suara terdengar berirama. “janganlah Kak… kan besok senin sudah ujian, sekarang sudah hari rabu” terdengar suara dari barisan depan,” iyalah kak… ini terlalu mepet waktunya” tambah yang lain. Aku melirik Abdul, dia tanpa ekspresi biasa.&lt;br /&gt;“ini tugasnya sudah diupload, kalian bisa mengerjakan mulai besok sore lewat CML. Kalian lihat di course 8 sampai 12. Dah tidak ada tawar-menawar lagi. Terakhir pengumpulan hari minggu jam 11 siang. Hanya itu yang ingin saya sampaikan di kelas akhir ini” wajah Kak Rio tetep saja terlihat sejuk, tapi ya itu wajah teganya juga terlihat jelas. Sementara aku lihat teman sekelilingku yang memasang wajah melas. “kalau sudah jelas boleh keluar, terimaksih…”&lt;br /&gt;“eh… “ terdengar suara kak Rio kembali. Ini yang kutunggu. waktunya kisi-kisi soal ujian. ‘Yes… yes…’ tidak rugi aku masuk kelas terakhir, ”tolong yang hari ini tidak masuk dikasih tahu tugasnya Oke…? Sudah boleh bubar” ha… ah… hanya itu… aku hanya tersenyum. Senyum kecut. Aku melirik Abdul. Dia hanya mesem dan terdengar samar-samar,” untung biasa SKS, yuk cari makan dulu di warung Bu soleh” aku berjalan… tenang.&lt;br /&gt;gerbong kereta , 17 Januari 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2208840507222773945-2209777019704800411?l=tempekremes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tempekremes.blogspot.com/feeds/2209777019704800411/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tempekremes.blogspot.com/2010/02/sistem-kridit-semalam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2208840507222773945/posts/default/2209777019704800411'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2208840507222773945/posts/default/2209777019704800411'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tempekremes.blogspot.com/2010/02/sistem-kridit-semalam.html' title='Sistem kridit Semalam'/><author><name>Moch Hasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15068450408359458490</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2208840507222773945.post-5853652161780214659</id><published>2009-12-07T19:35:00.000-08:00</published><updated>2011-04-22T04:17:15.617-07:00</updated><title type='text'>ASEAN Community as Milestone of Peaceful, Prosperous, and Social Development Region to strengthen ASEAN existence on the world stage</title><content type='html'>The ninth ASEAN Summit in Bali in October 2003 has decided to establish an ASEAN community. The establishment of an ASEAN Community has been accelerated by 2015 in twelfth ASEAN Summit in Cebu. The main reason of this accelerating is to strengthen ASEAN existence on the world stage. &lt;br /&gt;The establishment of an ASEAN community will be critical point since ASEAN must face the future the vision, courage, and unity needed to herald the new challenge of the strategic of re-alignment of 21st century, especially in East Asia. To realize the establishment of an ASEAN community, Cha-am Hua Hin Roadmap for an ASEAN Community (2009-2015) was signed at the 14th ASEAN Summit in Hua Hin, Thailand. The establishment of an ASEAN Community made up of three components- The ASEAN Security Community, The ASEAN Economy Community, and The ASEAN Socio-Culture Community. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;To realize peaceful region, the establishment of an ASEAN Security Community must be implemented. This implementation comprises six components, but not limited, as follow: political development, shaping and sharing of norm, conflict prevention, conflict resolution, post -conflict peace building, and implementing mechanism. By implementing these components, the peaceful and neutral region can be achieved. &lt;br /&gt;Some peoples think that the establishment of ASEAN Security Community means building block or military alliance among ASEAN members. In fact, ASEAN security Community is mean to establish regional stability and security by comprehensive ASEAN political cooperation. This should focus on consultation among ASEAN countries and information exchange in order to prevent threats against regional peace and stability. These threats include bilateral dispute among ASEAN members, cross-border terrorist activities, the spreads of serious disease across national boundaries, and international events that call for consultation and mutual assistance among ASEAN members.&lt;br /&gt;In view of mine, developing cooperative effort and mutual trust among ASEAN members will be committed by establishment of ASEAN Security Community. Further, ASEAN Security Community will promotes regional peace and stability through dialogue and cooperation among ASEAN members, political will of ASEAN members to settle the disputes peacefully and to take measures so that continuation of disputes would not escalate into armed conflict, and preventive diplomacy that should be undertaken by ASEAN member to give solution regarding across national problem face by ASEAN.&lt;br /&gt;In order to realize prosperous and highly competitive region with equitable economic development, the establishment of ASEAN Economy Community is important. Because of that, the ASEAN Economy Community Blueprint was adopted by ASEAN leaders during thirteenth ASEAN Summit in Singapore. In fact, ASEAN Economy Community is realization of economy integration goal that based on convergence of interest of ASEAN members to deepen and broaden economy integration through existing and initiative with clear timeline. But, it must be stated earlier that ASEAN Economy Community must take into account both national and regional interests so that there will be conflict of interest among ASEAN members.&lt;br /&gt;In fact, there is egotism in economy integration process. It’s natural event that can’t be denied. But at least there is high commitment among ASEAN members to implement the agreement in the name of national and regional prosperity. Without this commitment, it will be difficult for ASEAN members to compete on world stage. The close cooperation is needed by ASEAN members to develop both their countries and regional.&lt;br /&gt;  There are four pillars to ASEAN Economy Community. They are single market and production base, competitive economy region, equitable economy development, and integration to global economy. Each pillar has its priority action to ensure the establishment of ASEAN Economy Community. The first one heads to facilitate the development of service and production networks in ASEAN and to liberate the flow of factor of production. This first pillar is important to set free the flow of goods, service, capital, and labor in order to stimulate the development of regional economy.  The second pillar is to guarantee the competitiveness of regional economy through competitive policy, intellectual property right, infrastructure development, taxation, and consumer protection. The third and the forth pillar is to enhance the pace of SME development, capacity building and technical assistance for the lesser developed countries, while ensuring adoption of international best practices.&lt;br /&gt; The objective the establishment of ASEAN Socio-Culture Community is to build caring and sharing community through human and social development based on regional identity. The regional economy strength must be aimed rising at the community’s standard of living. So that, the development and enhancement human resources is key point to employment generation, alleviating poverty and socio-economy disparities, and ensuring economy growth with equity. In order to achieve this objective, ASEAN socio-Community must promote human development, social welfare and protection, social justice and rights, ensuring environmental sustainability, building the ASEAN identity, and narrowing the development gap among ASEAN countries.&lt;br /&gt;     At the end, the establishment of ASEAN Community will strengthen the role that ASEAN can play on the world stage. I can’t say that it will be single solution for international problem. But, at least, ASEAN Community will be part of solution for this international problem. Some of role that ASEAN Community can play with are 1) dealing with the spreading of non-traditional crime such as cyber crime, drug and weapon smuggling, and money laundering 2) leading conflict resolution by promoting the culture of prevention 3) promoting democracy and human right and 4) facilitating free-trade to stimulate international economy development. ASEAN can’t restrict its role only on regional issue. The role that take into account only national and regional interest but ignoring interest of countries outside the region would not have any effect in the long run. In summary, ASEAN community will not be restriction for ASEAN to play only for its interests but it will be bargaining power for ASEAN to play role on behalf of international development.  &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2208840507222773945-5853652161780214659?l=tempekremes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tempekremes.blogspot.com/feeds/5853652161780214659/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tempekremes.blogspot.com/2009/12/asean-community-as-milestone-of.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2208840507222773945/posts/default/5853652161780214659'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2208840507222773945/posts/default/5853652161780214659'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tempekremes.blogspot.com/2009/12/asean-community-as-milestone-of.html' title='ASEAN Community as Milestone of Peaceful, Prosperous, and Social Development Region to strengthen ASEAN existence on the world stage'/><author><name>Moch Hasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15068450408359458490</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2208840507222773945.post-6518644319046866333</id><published>2009-09-02T22:25:00.000-07:00</published><updated>2009-09-02T22:28:45.208-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='islam'/><title type='text'>Pengesahan RUU Sertifikasi Halal, Keputusan Bijaksana</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_aWck1ZC3J-8/Sp9TxX1EGXI/AAAAAAAAAIM/zYt0FPOWRl0/s1600-h/1+(10).jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 270px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_aWck1ZC3J-8/Sp9TxX1EGXI/AAAAAAAAAIM/zYt0FPOWRl0/s320/1+(10).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5377108587778939250" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ketika mengikuti forum diskusi di salah satu milis, saya sedikit terkejut bagaimana mungkin persoalan Rancangan Undang-undang (RUU) sertifikasi halal dijadikan perdebatan ideologis yang mengarah pada penyudutan kelompok agama tertentu dan dugaan komersialisasi lembaga salah satu agama, bahkan pada titik tertentu sertifikasi halal dikaitakan dengan ambisi sebuah partai politik&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Padahal, kalau ditilik lebih jauh persoalan utama dari sertifikasi halal adalah sangatlah sederhana, yaitu pemenuhan hak konsumen untuk mendapatkan produk yang terjamin keamanannya. Seperti halnya yang tertera dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomer 8 Tahun 1999 Tentang perlindungan konsumen, konsumen secara hukum mempunyai hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengonsumsi barang atau jasa. Tidak hanya itu, konsumen juga berhak mendapatkan informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa. Bertolak dari titik inilah terlihat bahwa inti persoalan Rancangan Undang-undang (RUU) sertifikasi halal adalah pemenuhan hak konsumen.&lt;br /&gt; Arah tren perkembangan dunia usaha pada saat ini tidak hanya berkutat pada titik kuantitas ataupun materi belaka, tetapi cenderung bergerak ke arah sisi kualitas. Konsumen pada umumnya lebih memilih untuk mengkonsumsi produk yang baik kualitasnya. Terlebih, perilaku konsumsi tidak lagi berarti pemenuhan kebutuhan secara materi, tetapi juga berarti pemenuhan akan nilai dan berkaitan dengan gaya hidup. Menjamurnya titik-titik eksklusif dalam dunia bisnis merupakan bukti nyata peralihan nilai konsumsi dalam masyarakat. Oleh sebab itu, tidak mengherankan kalau teori-teori manejemen modern lebih terfokus pada usaha pemuasan konsumen sehingga terbentuk kesetiaan konsumen. Untuk itulah, dunia usaha seharusnya merasa diuntungkan dengan pengesahan RUU sertifikasi halal sebab pengesahan RUU akan meningkatkan kualitas produk yang dihasilkan yang pada giliranya akan menjadi stimulus bagi konsumen.&lt;br /&gt; Berkaitan dengan persoalan pengesahan RUU sertifikasi halal, seharusnya terjadi pergeseran isu dari isu pro-kontra ke arah upaya peningkatan efektifitas undang-undang dalam usaha perlindungan konsumen. Hal ini dikarenakan, berdasarkan catatan sejarah sembilan tahun terakhir, kasus peredaran produk haram sudah berulang kali muncul. Pada tahun 2001 terjadi kasus peredaran bumbu masak yang menggunakan enzim lemak babi. Kasus peredaran daging celeng di jabotabek pada tahun 2000-2002 telah menebar keresahan warga. Tidak berhenti di situ, pada tahun 2004 kasus Bread Talk Plaza telah menambah daftar panjang kasus peredaran produk haram. Pada bulan april tahun ini terjadi kasus dendeng babi yang terjadi di Kota Malang, Jawa Timur. Terjadinya kasus-kasus diatas seharusnya membuka mata semua pihak bahwa kebutuhan akan regulasi untuk menjamin kehalalan produk sudah begitu mendesak di republik ini. Pengesahan Rancangan Undang-undang sertifikasi halal diharapkan mampu membendung perilaku pengusaha nakal yang bertingkah.&lt;br /&gt; Perdebatan mengenai perlu tidaknya pengesahan RUU sertifikasi halal dirasa tidak lagi relevan dengan perkembangan dunia usaha. Dari berbagai sisi, Undang-undang sertifikasi halal jelas diperlukan untuk kebaikan semua pihak. Yang seharusnya menjadi fokus adalah penyempurnaan RUU itu sendiri sehingga menjamin efektifitas undang-undang untuk menanggulangi berbagai kasus yang mungkin akan terjadi. Terlebih, sertifikasi halal akan memberikan poin lebih dalam dunia perdagangan.&lt;br /&gt; Berkaitan dengan pernyataan keberatan berbagai pihak  atas pengesahan sertifikasi halal(Media Indonsia : 25 Agustus 2009), seharusnya diselesaikan melalui jalur kompromi. Ketidaksiapan kalangan usaha, kususnya UMKM tidak bisa dijadikan alasan penolakan pengesahan RUU. Mereka seharusnya belajar bukan menghindar demi kebaikan dan kemajuan dunia usaha tanah air. Penetapan kewajiban setifikasi halal secara bertahap bisa menjadi pilihan. Terlebih, MUI memberika sinyal positif dengan membebaskan biaya sertifikasi halal bagi UMKM(hupelita.com). &lt;br /&gt; Tentu, RUU sertifikasi halal masih membutuhkan penyempurnaan, terutama berkaitan hal-hal yang bersifat teknis. Akan tetapi perlu diingat menunggu tercapainya titik sempurna memerlukan waktu. Padahal, kasus-kasus peredaran produk haram terus bermunculan. Oleh sebab itu, pengesahan RUU ini merupakan keputusan yang bijaksana.&lt;br /&gt;di&lt;br /&gt;http://suarapembaca.detik.com/read/2009/08/29/162731/1192258/471/pengesahan-ruu-sertifikasi-halal-keputusan-bijaksana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2208840507222773945-6518644319046866333?l=tempekremes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tempekremes.blogspot.com/feeds/6518644319046866333/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tempekremes.blogspot.com/2009/09/pengesahan-ruu-sertifikasi-halal.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2208840507222773945/posts/default/6518644319046866333'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2208840507222773945/posts/default/6518644319046866333'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tempekremes.blogspot.com/2009/09/pengesahan-ruu-sertifikasi-halal.html' title='Pengesahan RUU Sertifikasi Halal, Keputusan Bijaksana'/><author><name>Moch Hasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15068450408359458490</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_aWck1ZC3J-8/Sp9TxX1EGXI/AAAAAAAAAIM/zYt0FPOWRl0/s72-c/1+(10).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2208840507222773945.post-3899049540200448605</id><published>2009-08-24T23:40:00.000-07:00</published><updated>2011-04-22T04:17:11.291-07:00</updated><title type='text'>Belaarlah Kawan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_aWck1ZC3J-8/SpOH7S6R83I/AAAAAAAAAIE/buzG2DmiIbU/s1600-h/1+(38).jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_aWck1ZC3J-8/SpOH7S6R83I/AAAAAAAAAIE/buzG2DmiIbU/s320/1+(38).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5373788233141449586" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hubungan antarnegera rumpun melayu, Indonesia-Malaysia, kembali memanas. Setelah beberapa bulan terakhir mereda, pengakuan Malaysia atas tari pendet yang selama ini menjadi tari kebanggaan Pulau Dewata, Bali membuat gerah publik burung garuda. Tentu saja, insiden semacam ini tidak serta-merta menjadikan Malaysia sebagai tersangka yang bisa dijadikan kambing hitam. Meskipun sebagai warga negara Indonesia, bisa dimaklumi timbulnya rasa prihatin, kesal dan marah. Akan tetapi, timbulnya rasa seperti itu tidaklah cukup untuk menghindari insiden yang kemungkinan akan terjadi pada waktu ke depan. Dari sinilah pentingnya pembeajaran bagi publik untuk menghadapi kejadiaan serupa di masa yang akan datang.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelampiasan rasa marah yang berlarut-larut tanpa ada tindakan rasional hanya akan menghabiskan sumber daya negeri ini. Pada kasus ini, tindakan pembenaran yang dilakukan Malaysia terlihat sebagai tindakan cerdik nan lihai. Ketidakadaan perangkat pelindung hukum menjadi celah istimewa bagi mereka untuk mengoptimalkan potensi budaya negeri garuda. Rasa marah dan protes demi perkembangan budaya nasional itu diperlukan, tetapi akan lebih berguna jika dikombinasikan dengan cara-cara yang efektif dan efisien. Misalnya menjadikan iklan yang dilakukan Malaysia sebagai sarana iklan gratis bagi dunia pariwisata Indonesia. Pemain yang memperagakan hal inilah yang dibutukan pada saat ini. Mereka yang mampu melihat celah untuk kemudian menjadikan celah itu sebagai titik pacu kemajuan budaya negeri garuda. &lt;br /&gt; Memang benar memainkan peran seperti ini tidaklah mudah, terlebih pola pikir dan cara pandang sebagian besar masyarakat yang menitikberatkan pada reaksi responsif bukan proaktif. Proses pembelajaran, itulah yang dibutuhkan negeri ini untuk tampil lebih dewasa dalam menyikapi dan memecahkan belbagai persoalan, tidak hanya insiden tari pendet tetap juga persoalan lain yang akan muncul di kemudian hari. Teruslah belajar… kawan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asrama UI, 25 August 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2208840507222773945-3899049540200448605?l=tempekremes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tempekremes.blogspot.com/feeds/3899049540200448605/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tempekremes.blogspot.com/2009/08/belaarlah-kawan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2208840507222773945/posts/default/3899049540200448605'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2208840507222773945/posts/default/3899049540200448605'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tempekremes.blogspot.com/2009/08/belaarlah-kawan.html' title='Belaarlah Kawan'/><author><name>Moch Hasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15068450408359458490</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_aWck1ZC3J-8/SpOH7S6R83I/AAAAAAAAAIE/buzG2DmiIbU/s72-c/1+(38).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2208840507222773945.post-8047458400892956528</id><published>2009-08-20T03:28:00.000-07:00</published><updated>2009-08-20T03:31:22.845-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pemilu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='eling'/><title type='text'>Cahaya Itu Masih Ada...Kawan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_aWck1ZC3J-8/So0lpgXSZPI/AAAAAAAAAH8/nLXIbXiESWg/s1600-h/8.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_aWck1ZC3J-8/So0lpgXSZPI/AAAAAAAAAH8/nLXIbXiESWg/s320/8.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371991325515343090" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jika anda lahir pada detik ini, &lt;br /&gt;Apakah anda menyesal terlahir di negeri penuh korupsi?&lt;br /&gt;Apakah anda menyesal  terlahir di negeri penuh kebohongan?&lt;br /&gt;Apakah anda menyesal terlahir di negeri ini?&lt;br /&gt;Jangan… janganlah menyesal kawan… matahari itu masih bersinar kawan. . . &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari ini, saya serigkali mendapati komentar miring dan nada pisimis dari teman-teman saya ketika berbicara tentang permasalahan-permasalaha sosial kemasyarakatan yang berkembang di masyarakat. Ambil contoh saja ketika berbicara tentang masalah pemilu, peringatan kemerdekaan, ataupun regenerasi nasional. Ketika pemilu berjalan sangat alot yang diwarnai dengan kekisruhan DPT, kerancuan penetepan perolehan kursi DPR, dan ketegangan antarelite politik yang menjurus pada dedemokratisasi, perasaan sekeptis akan masa depan ini menjangkit kedalam benak masyarakat. Hal ini bisa dimengerti, mengingat pengalaman pahit anak negeri atas pergulatan politik kotor yang seringkali terjadi. Rasa jenuh atas praktik kotor politisi menjadi penyebab utama masyakat begitu benci terhadap politisi. Hampir tidak ada asosasi positf bagi seorang politisi. Seakan yang ada hanyalah politisi busuk yang lapar akan kekuasan.&lt;br /&gt;Keadaan serupa juga terjadi dalam peringatan hari kemerdekaan. Hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia yang seharusnya dijadikan momentum untuk membangun semangat juang, ternyata juga dijadikan ajang keluh-kesah berbagai pihak dengan topeng refleksi kemerdekaan. Hal ini terlihat dari berbagai tulisan yang menghiasi halaman surat kabar, baik tingkat nasional maupun lokal. Dihadapan mata mereka, seakan tak ada kebaikan yang terjadi di negeri ini. Seakan negeri ini penuh dengan segudang permasalahan yang menumpuk tak karuan. Padahal kalau dilihat dengan seksama, negeri ini sudah berada pada jalur yang benar. Sebagaimana seorang anak yang tumbuh, negeri ini juga terus belajar dan belajar untuk mencapai fase kedewasaan. Begitu pulalah masyarakat, mereka juga terus belajar untuk tumbuh dewasa dan mencapai kematangan.&lt;br /&gt;Tentu saja, saya tidak ada maksud mendiskritkan mereka yang selalu melihat sesuatu dari kaca mata permasalahan. Saya juga belajar banyak kepada mereka. Tapi alangkah bijaksananya kalau di hari ini kita tidak berbicara soal permasalahan semata… sebab saya yakin masyarakat, pemerintah, politisi, dan mereka para pembuat kebijakan jugalah manusia yang membutuhkan apresiasi. Kalau kerja mereka dinilai merah, itu memang menjadi catatan, tetapi bukan berarti kita membiarkan sikap sekeptis muncul dan berkembang. Tengoklah masih banyak mereka yang mempunyai iktikad baik pada negeri ini. Meskipun mereka pernah salah bukan berarti, mereka bisa berbuat lebih baik. Matahari itu masih ada kawan….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2208840507222773945-8047458400892956528?l=tempekremes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tempekremes.blogspot.com/feeds/8047458400892956528/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tempekremes.blogspot.com/2009/08/cahaya-itu-masih-adakawan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2208840507222773945/posts/default/8047458400892956528'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2208840507222773945/posts/default/8047458400892956528'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tempekremes.blogspot.com/2009/08/cahaya-itu-masih-adakawan.html' title='Cahaya Itu Masih Ada...Kawan'/><author><name>Moch Hasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15068450408359458490</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_aWck1ZC3J-8/So0lpgXSZPI/AAAAAAAAAH8/nLXIbXiESWg/s72-c/8.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2208840507222773945.post-1710428092472318146</id><published>2009-08-06T19:16:00.000-07:00</published><updated>2011-04-22T04:17:51.329-07:00</updated><title type='text'>Kapitalisme, apakah racun?</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Kebetulan saya sedang bercahatingan ria dengan saudara saya, seorang indonesianis sejati. Saya sebelumnya menyampaikan rasa hormat kepada saudaraku ini. Alasanya simple, dia mengajari saya ilmu. Bukankah sayidina ali radiallahuanhu berkata bahwa siapapun yang mengajarimu merupakan gurumu. Teacher is the master of yours.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;span style="font-size:130%;"&gt; &lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Saudaraku yang cemerlang ini memancing saraf penasaran saya dengan bertanya tentang kapitalisme kepada saya. Padahal saya secara pribadi yakin bahwa sadaraku ini tidak mempunyai keperluan apapun untuk menayakan hal ini pada saya. Ibaratnya mengarami air laut. Tak ada ingauanku yang menambah kedalaman pemahamnya karena kedalaman pemahamannya sendiri.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:courier new;"&gt;“ Wul, kamu tahu tho apa itu kapitalisme…? Apa kamu setuju dengan ideologi kapitalisme ini?”, cletuknya. “ Welah… apa lagi ini…? Kok ngebahas kapitalisme…?”, seloroh saya kepada saudaraku ini. “ Baiklah, saya akan berkomentar sedikit masalah ini”, saya menatapnya, ” Meskipun hal itu tidak akan menambah pengetahuan baru apapun kepadamu sebab kau terlalu superior bagiku”. Dalam pandanganku, kapitalisme merupakan ideologi yang pada akhirnya melahirkan dan menyokong salah satu  sistem ekonomi yang bercorak pada sikap individualitas. Sistem ini didasarkan pada asumsi bahwasanya manusia memiliki hasrat untuk memuaskan dirinya sendiri untuk memenuhi kebutuhannya sebab rational people respond to incentive. Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan kalau pada perkembangannya sistem ekonomi kapitalis ini menekankan pada hak individu dan kebebasannya dalam menjalankan kegiatan ekonomi.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Penekanan kebebasan individu dalam pandangan seorang kapitalis  memiliki arti penting, paling tidak untuk dua alasan pokok. Pertama, menjamin hasrat individu, jaminan ini juga berarti adanya kebebasan akses atas ekonomi dalam menjalankan kegiatan ekonomi, yang pada akhirnya akan mengarah pada kemakmuran individu. Kemakmuran individu inilah yang pada akhirnya menjadi jembatan untuk mencapai kemakmuran kolektif. Kedua, menciptakan efektivitas dan efesiensi dalam perekonomian. Kedua kunci ini bisa dibuka dengan jalan melakukan deregulasi besar-besaran yang pada akhirnya merangsang geliat perekonomian. Mengapa harus deregulasi? Alasannya sangat sederhana. Dengan adanya deregulasi ini produk hukum yang tidak berguna akan tereliminasi. Terlebih, selama ini sebagian besar dari produk produk hukum ini menjadi ganjalan bagi pembangunan ekonomi. Khusus untuk poin yang kedua ini, saya rasa sangat erat kaitanya dengan usaha pembasmian pandemik negeri ini, korupsi.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Menurut hemat saya, kebutuhan akan deregulasi sudah begitu mendesak, khusunya dengan momentum pemberantasan korupsi negeri ini. Deregulasi dalam perekonomian pada akhirnya akan meminimalisasikan kesempatan korupsi yang telah menjadi penyakit kronis negeri ini. Dengan demikian, kebuntuan birokrasi yang selama ini menjadi lahan subur bagi tumbuh-suburnya korupsi mampu dipecahkan. Mengapa? Sebab rantaian aturan-aturan formalitas yang selama ini menjadi topeng bagi koruptor pemerintahan untuk mendapatkan hak istemewa akan akses ekonomi tanpa mekanisme persaingan bisa diputus. Terputusnya rantai ini akan berdampak pada peringanan beban pencipta kemakmuran yang mempertaruhkan modal milik mereka sendiri. &lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Sampai pada titik ini, saya sama sekali tidak bermaksud untuk mengeyampingkan aturan dan perundang-undangan. Tentu saja, aturan main menjadi perangkat fital dalam sistem ekonomi dan politik kapitalis sebab aturan main inilah yang akan menjamin keterbukaan akan akses ekonomi, pengakuan atas hak individu, dan penunjuk atas kebebasan ekonomi pasar. Dengan demikian pasar sebagai dasar perekonomian bisa beropersi sebagaimana mestinya.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Sebagai penegas, saya ingin mengulangi sekali lagi bahwa sitem yang didirikan atas dasar kapitalisme tidak harus dilihat sebagai ular ataupun racun yang harus dipandang sinis dan jijik. Terdapat semangat dan idea positif dari sistem ini yang dibutuhkan negeri ini untuk menjalankan pembangunan bangsa. Khususnya berkaitan pendewasaan kebebasan, keterbukaan, dan dan demokrasi. Tentu saja, terlalu mudah untuk mencari titik kelemahan sistem ini, apalagi bagi seorang akademisi yang pandai beretorika. Akan tetapi sangat tidak etis dan bijaksana jika menjadikanya sebagai alasan atas penolakan sebagian dari anak negeri ini hanya karena mereka meyakini atas suatu sistem. Apalagi berprasangka buruk tanpa ada dasar dan alasan yang jelas.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Terlebih belum hilang dari ingatan kita akan cerita kesuksesan reformasi birokrasi yang terjadi di lingkungan kementrian keuangan. Hal ini merupakan bukti nyata akan keberadaan setitik nurani di lingkungan ini. Bandingkan dengan lingkungan kementrian lainnya. . . Oleh sebab janganlah berprasangka terlebih dahulu terhadap mereka yang ada di sana. . .&lt;/span&gt;   &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2208840507222773945-1710428092472318146?l=tempekremes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tempekremes.blogspot.com/feeds/1710428092472318146/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tempekremes.blogspot.com/2009/08/kapitalisme-apakah-acun.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2208840507222773945/posts/default/1710428092472318146'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2208840507222773945/posts/default/1710428092472318146'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tempekremes.blogspot.com/2009/08/kapitalisme-apakah-acun.html' title='Kapitalisme, apakah racun?'/><author><name>Moch Hasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15068450408359458490</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2208840507222773945.post-4285878501413557432</id><published>2009-07-31T01:09:00.001-07:00</published><updated>2009-07-31T01:12:04.428-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='liburan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lomba'/><title type='text'>Kompetisi Esai Mhasi swa 2009</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_aWck1ZC3J-8/SnKm2imM0II/AAAAAAAAAHU/0W1Fb5H59-U/s1600-h/brosur.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 238px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_aWck1ZC3J-8/SnKm2imM0II/AAAAAAAAAHU/0W1Fb5H59-U/s320/brosur.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5364533562081857666" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompetisi Esai Mahasiswa 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasionalisme hanyalah kata-kata kosong sampai kita mengisinya dengan gagasan, sikap kritis, pengalaman, dan harapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompetisi Esai untuk Mahasiswa 2009 “Menjadi Indonesia” digelar TEMPO INSTITUTE dalam rangka memperingati delapan windu Indonesia merdeka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TEMA: “Nasionalisme di Mata Saya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pastikan memulai esaimu dengan menggambarkan kondisi lokal. Berikut ini contoh sudut pandang yang bisa dipilih:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. BUDAYA&lt;br /&gt;Budaya adalah keseluruhan sistem sosial masyarakat. Bagaimana membangun Indonesia yang punya kebanggaan, keteguhan, tidak rendah diri, malu korupsi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. EKONOMI&lt;br /&gt;2009 adalah tahun ekonomi kreatif. Bagaimana menjadikan ekonomi kreatif sebagai bagian dari mendefinisikan kembali nasionalisme secara mutakhir?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. KEPEMIMPINAN&lt;br /&gt;Nilai-nilai kepemimpinan, terutama melayani masyarakat, dewasa ini tidak mendapat tempat yang baik. Apa yang mestinya dilakukan kaum muda yang nota bene adalah pemimpin masa depan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. SOSIAL&lt;br /&gt;Indonesia adalah negara yang bhinneka. Namun, belakangan ini kebanggaan pada keragaman perlahan terkikis. Apa yang bisa kamu lakukan untuk menumbuhkan kembali kebanggaan akan keragaman?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PESERTA:&lt;br /&gt;Mahasiswa program D3, S1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DEWAN JURI:&lt;br /&gt;Terdiri dari akademisi, budayawan, aktivis sosial dari berbagai kalangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENTOR:&lt;br /&gt;Peserta dipersilakan berdiskusi, konsultasi, dengan mentor yang disediakan panitia. Daftar mentor akan dijelaskan di www.tempo-institute.org&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERSYARATAN:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Panjang esai 5—10 halaman kuarto, spasi ganda.&lt;br /&gt;    * Belum pernah dipublikasikan.&lt;br /&gt;    * Dikirimkan kepada panitia melalui surat elektronik ke:&lt;br /&gt;      menjadi-indonesia@mail.tempo.co.id&lt;br /&gt;    * Dikirimkan via pos ke alamat sekretariat “Menjadi Indonesia”, Jalan Proklamasi 72, Jakarta 10320.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KRITERIA PENILAIAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Mengemukakan gagasan kreatif yang memberi kontribusi bagi masyarakat.&lt;br /&gt;    * Orisinalitas gagasan mendapat porsi penilaian lebih dibanding keindahan tata bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TENGGAT DIPERPANJANG SAMPAI DENGAN 30 SEPTEMBER 2009 (CAP POS)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HADIAH:&lt;br /&gt;Pemenang I: Laptop dan uang tunai Rp 6.000.000&lt;br /&gt;Pemenang II: Laptop dan uang tunai Rp 4.000.000&lt;br /&gt;Pemenang III: Laptop dan uang tunai Rp 2.000.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengumuman pemenang: 10 Oktober 2009. Dua puluh peserta terbaik akan mendapat kesempatan mengikuti “Kemah Menulis” di Jakarta, Oktober 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KONTAK:&lt;br /&gt;Ikhwanul Huda (Iwan)&lt;br /&gt;021-3916160 ext. 220&lt;br /&gt;HP. 021-98371997&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2208840507222773945-4285878501413557432?l=tempekremes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tempekremes.blogspot.com/feeds/4285878501413557432/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tempekremes.blogspot.com/2009/07/kompetisi-esai-mahasiswa-2009.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2208840507222773945/posts/default/4285878501413557432'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2208840507222773945/posts/default/4285878501413557432'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tempekremes.blogspot.com/2009/07/kompetisi-esai-mahasiswa-2009.html' title='Kompetisi Esai Mhasi swa 2009'/><author><name>Moch Hasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15068450408359458490</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_aWck1ZC3J-8/SnKm2imM0II/AAAAAAAAAHU/0W1Fb5H59-U/s72-c/brosur.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2208840507222773945.post-3999190437831052099</id><published>2009-07-30T21:29:00.000-07:00</published><updated>2009-07-30T21:31:57.041-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='liburan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='eling'/><title type='text'>Tidak hanya Menjewer</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Kasih sayang seorang ibu sungguhlah luar biasa. Apa yang telah dilakuannya tidak kan pernah bisa disamakan dengan makhluk lain di bumi ini. Tak kan pernah ada satu pun makhluk yang berinisial manusia mampu melebihi bahkan sekedar menyamai peranannya. Kebenaran ini tak terbantakan sampai kapanpun. Sosok Ibu selalu digambarkan sebagai manusia yang mampu dijadikan sandaran ketika hati goyah, mampu menjadi pemimpin ketika terjadi misorientasi, dan yang terpenting selalu memberikan rasa aman, tentram, dan damai  dalam situasi dan kondisi apapun dengan luasnya kasih sayang dan cintanya kepada anak-anaknya. Sampai-sampai Rasullullah, Muhammad SAW,  pun menyanjungnya dengan sabdanya “surga itu di telapak kaki ibu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa pun yang ibu lakukan untuk anaknya merupakan hal yang terbaik, paling tidak menurut pandangannya sebagai seorang ibu. Ibu tidak mungkin membentak, memarahi, bahkan melakukan kekerasan fisik tanpa ada alasan yang jelas untuk kebaikan anaknya. Saya pernah merasakan jeweran ibu sampai telinga saya terasa begitu sakit, sakit sekali karena saya menonjok salah seorang teman seperermainan sampai berdarah. Tanpa mau melihat alasan mengapa ibu menjewer, seperti umumnya seorang anak kecil, saya menyalahkan dan membenci ibu karena rasa sakit yang menjulur ke telinga. Saya tak mau bicara dengan ibu sampai beberapa hari lamanya. Saya hanya menyalahkan dan membencinya tanpa ada kemauan untuk merasakan kelembutan dan kasih sanyangnya. Namun begitulah, Ibu hanya memikirkan anaknya seorang tanpa memperdulikan image dirinya, apakah nantinya dianggap sebagai monster yang selalu dibenci bahkan lebih buruk dari itu. Ibu memikirkan apa yang menjadi masalah anak-anaknya. Mengayomi, merangkul anak-anaknya dengan penuh penerimaan atas keseluruhan baik-buruknya dan senantiasa memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya. “Kebaikan anaknya” hanya itulah yang ada dalam benak seorang ibu.&lt;br /&gt;Rasa cinta dan kasih sanyangnyalah yang menjadikanya begitu baik kepada anak-anaknya. Bahkan seorang ibu mempertaruhkan nyawa untuk anknya. Akan tetapi, kalau dilihat saat ini…, saya tidak habis pikir bagaimana ibu dari seluruh warga negara tercinta ini, Indonesia, begitu membenci anak-anaknya sendiri. Ibu yang seharusnya yang seharusnya menjadi tempat keluh kesah seluruh warganya justru memburu dengan bengis atas nama keamanan dan keadilan. Saya secara pribadi merasakan pahit atas peristiwa peledakan bom di Jakarta. Tak bisa disangkal ini adalah sebuah tragedy bagi sebuah bangsa bernama Indonesia. Akan tetapi apa yang dipertotonkan pemerintah Indonesia dalam upaya pencegahan bom bukanlah suatu yang pantas untuk dilakukan oleh seorang ibu kepada anaknya. Mengutuk, mengutuk, dan mengutuk bukanlah suatu kebijaksanaan. Pelampiasan rasa marah kepada para pelaku pengeboman melalui media, massa, jaringan kemanusiaan, dan militer bukanlah pemecahan masalah. Saya hal ini hanya menyebabkan kuatnya rantai kebencian yang selama ini telah ada. Kematian para korban jiwa, kesakitan para korban, dan rasa traumatik mental yang menimpa tidak mungkin dianggap lalu. Saya memahami rasa sakit yang telah mereka terima. Akan tetapi, apakah kita juga melupakan rasa sakit yang selama ini ditanggung para pelaku pengeboman? Apakah tidak terbuka sedikit mata hati kita betapa besar beban yang selama ini telah ditanggung oleh mereka? Sebagai anak yang tidak pernah mendapat kasih sanyang dari seorang ibu, tidak pernah memperoleh kehangatan, ketentraman dari ibu? Dikucilkan, dipandang sebelah mata, dilihat sinis… apakah itu semua bukanlah penderitaan dan kematian? Inilah yang seharusnya diperhatikan oleh seorang ibu negeri ini sehingga tragedi semacam ini tidak pernah terulang.&lt;br /&gt;Beberapa hari setelah tragedi bom, saya mendapatkan sms dari seorang teman yang intinya marah atas pengebom. Ketika saya bertanya mengapa marah? Saya terbelalak tidak habis pikir teman tercinta saya menjawab bahwa tim sepakbola kesanyangan mereka membatalkan tur ke Indonesia. Oe… oe… oe… yang benar saja… persoalan kemanusiaan, persoalan nyawa hanya dibenturkan dengan sepak bola… weleh… apalagi ini pola pikir macam apa ini… matilah… Saya secara tak sadar teringat bahwa struktur sosial masyarakat sudah terdestruksi...  sudahlah saya juga tak bisa memberikan solusi tapi paling tidak saling memahami, saling menerima, dan membuka diri mungkin itu yang diinginkan tragedu ini. Apa benar seperti itu? Saya tidak tahu… saya tidak tahu… saya tidak mengerti…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2208840507222773945-3999190437831052099?l=tempekremes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tempekremes.blogspot.com/feeds/3999190437831052099/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tempekremes.blogspot.com/2009/07/tidak-hanya-menjewer.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2208840507222773945/posts/default/3999190437831052099'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2208840507222773945/posts/default/3999190437831052099'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tempekremes.blogspot.com/2009/07/tidak-hanya-menjewer.html' title='Tidak hanya Menjewer'/><author><name>Moch Hasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15068450408359458490</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2208840507222773945.post-4119729053102950613</id><published>2009-05-11T04:33:00.000-07:00</published><updated>2009-05-11T04:47:28.762-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='karawitan'/><title type='text'>Karawitan pada saat ini</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Pada saat ini, minat generasi muda untuk mengembangkan seni karawitan jawa sangatlah minim. Perlu strategi khusus untuk meningkatkan minat generasi posmomodern terhadap kesenian karawutan. Oleh sebab itu, saya, penulis, melakukan penelitian ringan untuk mencari salah satu variabel yang menentukan minat generasi muda atas kesenian karawitan. Variabel ini direpresentasikan dengan intensitas hubugan dengan kesenian karawitan. Untuk tujuan tersebut, penulis melakukan regresi linier satu varibel. Intensitas hubungan diranking dengan bobot sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Intensitas Hubungan         Bobot Nilai&lt;br /&gt;Tidak mengenal seni karawitan     1&lt;br /&gt;Mengenal seni karawitan             2&lt;br /&gt;Pernah bermain seni                 3&lt;br /&gt;Sering bermain seni karawitan     4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan untuk ketertarikan dan minat generasi muda atas kesenian karawitan, penulis menetapkan tabel preferensi yang merepresantasikan permintaan atas kesenian karawitan. Preferensi ini diukur dengan dengan skala ordinal dengan bobot sebagai berikut:&lt;br /&gt;Preferensi               Bobot nilai&lt;br /&gt;Kurang suka                      1&lt;br /&gt;Biasa                                           2&lt;br /&gt;Agak  suka                     3&lt;br /&gt;Seka                                           4&lt;br /&gt;Sangat Suka                      5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk melihat korelasi antara keduanya maka dilakukan regresi linear dengan menjadikan intensutas hubungan sebagai variabel independent dan prefernsi sebagai variabel dependent. Sampel untuk penelitian sederhana ini diambil dengan metode insedental selama tiga hari dengan jumlah sampel sebesar 32 sampel. Hasil sampel tersebut disajikan dalam tabel di bawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intensitas Hubungan                   Preferensi&lt;br /&gt;1                                                                                  1&lt;br /&gt;2                                                                                  1&lt;br /&gt;4                                                                                       5&lt;br /&gt;1                                                                                       2&lt;br /&gt;1                                                                                       1&lt;br /&gt;2                                                                                      2&lt;br /&gt;4                                                             5&lt;br /&gt;1                                                                                 1&lt;br /&gt;1                                                                                       2&lt;br /&gt;2                                                                                 2&lt;br /&gt;2                                                                                       2&lt;br /&gt;2                                                                                 1&lt;br /&gt;3                                                                                 4&lt;br /&gt;2                                                                                 2&lt;br /&gt;2                                                                                 2&lt;br /&gt;3                                                                                 3&lt;br /&gt;2                                                                                 2&lt;br /&gt;1                                                                                  2&lt;br /&gt;2                                                                                  4&lt;br /&gt;3                                                                                  4&lt;br /&gt;2                                                                                  1&lt;br /&gt;1                                                                                  2&lt;br /&gt;2                                                                                   1&lt;br /&gt;2                                                              2&lt;br /&gt;3                                                                                 4&lt;br /&gt;2                                                                                 2&lt;br /&gt;3                                                                                  5&lt;br /&gt;2                                                                                  3&lt;br /&gt;1                                                                                  2&lt;br /&gt;1                                                              2&lt;br /&gt;1                                                                                  1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hasilnya perhitugan dapat dilihat pada tabel di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUMMARY OUTPUT&lt;br /&gt;Regression Statistics&lt;br /&gt;Multiple R                              0,774975&lt;br /&gt;R Square                                0,600586&lt;br /&gt;Adjusted R Square               0,587272&lt;br /&gt;Standard Error                    0,809499&lt;br /&gt;Observation                         32&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANOVA    &lt;br /&gt;                       df                         SS                                 MS                F                     F-significant&lt;br /&gt;Regression   1                29,56009008              29,56009          45,11003              1,92E-07&lt;br /&gt;Residual      30              19,65865992                 0,655289 &lt;br /&gt;Total            31                  49,21875    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                              Coefficients         Standard Error         t Stat                     P-value&lt;br /&gt;Intercept          0,259165613           0,341772915        0,758298              0,4541891&lt;br /&gt;X Variable         1 1,093552465       0,162818247        6,7164                   1,92E-07&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hasil regresi di atas, terlihat bahwa korelasi antara dua variabel dependent dan independent cukup kuat kuat, yakni sebesar 77,4875%. Hal ini menandakan bahawa 60,0586% variasi dalam variabel dependent dipengaruhi oleh variabel independent. Untuk menguji tingkat signifikansi korelasi antara dua variabel, uji-t (P-value sebesar 1,92E-07&lt;5%)&gt;    tingkat preferensi.    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2208840507222773945-4119729053102950613?l=tempekremes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tempekremes.blogspot.com/feeds/4119729053102950613/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tempekremes.blogspot.com/2009/05/karawitan-pada-saat-ini.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2208840507222773945/posts/default/4119729053102950613'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2208840507222773945/posts/default/4119729053102950613'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tempekremes.blogspot.com/2009/05/karawitan-pada-saat-ini.html' title='Karawitan pada saat ini'/><author><name>Moch Hasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15068450408359458490</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2208840507222773945.post-566854320008413133</id><published>2009-05-10T21:54:00.001-07:00</published><updated>2009-05-10T21:58:52.287-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='menejemen'/><title type='text'>What should etrepreneurs pay attention to?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_aWck1ZC3J-8/Sgewb-2-WBI/AAAAAAAAAHM/JN2rSHXQnQ4/s1600-h/lens1293866_94443_95673123.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 100px; height: 98px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_aWck1ZC3J-8/Sgewb-2-WBI/AAAAAAAAAHM/JN2rSHXQnQ4/s320/lens1293866_94443_95673123.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5334426278420174866" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;    Since the mid-2006s, one in five University students has considered the need to have their business. They want to organize and run their own business which is appealing their own interest and abilities. Further, since the various seminar were held in order to encourage heir interest in running their own business, to be an entrepreneur is prominent choice for their future. But, as it’s well-known that the risk of bankruptcy is inevitable, besides the risk of uncertainity and unsecurity, They must be aware of economic signal so that the risk can be minimized. At least, there are four economic signal that entrepreneur should pay attention to&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;    First, business cycle. As goods and services that entrepreneur produce are sold at market, it’s sale must be influenced by business cycle. If there is economic expansion, there must be economy growth. It means that aggregate demand has shifted to left side. So that there are more goods and services to be consumed for both domestic and foreign society and more capital to be invested. At this time, the whole economy run well. Of course, it’s appropriate for entrepreneur to increase their production because all of their products must be sold.  On other hand, if there’s economy contraction, they must be aware of it. They must incure certain costs and expenses to stay un business.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Second, competition. In free market system government’s role to control what its citizent do with their business is limited. What should they do with their business is their right. So that  competition is inevitable element in business world. It’s why entrepreneur must be aware of competition system. In order to compete in their business, entrepeneur must keep their business competitive by maintaining lower cost. For example, by using mass production scale.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;   Third, factors of production. Factors of production, for example labour, natural resources, and capital, are required in order to produce goods and services. There will be no products without providing these factors. As the availability of these factors are represented by their supply side, it’s critical to keep them on right side. So that there will no shortage of factors of production and production process must be keep going on.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;   Fourth, management system. The importance of good management systems has been considered. It has significant effect to the succes of business running. At least, there are some reasons why good management system is important for business’s life. First,  to improve efficiency and productivity. Second, to get accurate decision making regard on various condition. And the last, to ensure that business’s operation run well.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2208840507222773945-566854320008413133?l=tempekremes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tempekremes.blogspot.com/feeds/566854320008413133/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tempekremes.blogspot.com/2009/05/what-should-etrepreneurs-pay-attention.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2208840507222773945/posts/default/566854320008413133'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2208840507222773945/posts/default/566854320008413133'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tempekremes.blogspot.com/2009/05/what-should-etrepreneurs-pay-attention.html' title='What should etrepreneurs pay attention to?'/><author><name>Moch Hasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15068450408359458490</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_aWck1ZC3J-8/Sgewb-2-WBI/AAAAAAAAAHM/JN2rSHXQnQ4/s72-c/lens1293866_94443_95673123.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2208840507222773945.post-9101966132663836862</id><published>2009-05-08T05:06:00.000-07:00</published><updated>2011-04-22T04:17:56.902-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='liburan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='eling'/><title type='text'>Some myths of  tea and coffee</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_aWck1ZC3J-8/SgQhr7O2ppI/AAAAAAAAAHE/2mO7SnrArjc/s1600-h/latteartsample.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 166px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_aWck1ZC3J-8/SgQhr7O2ppI/AAAAAAAAAHE/2mO7SnrArjc/s320/latteartsample.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5333424897231595154" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Since it’s well-known that tea and coffee are part of our life, it’s important to explore some myths of them, not only for our knowledge, but also for our scientific investigation.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;The following is some of these myths.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;a. Herbal tea is tea.&lt;br /&gt;It’s absolutely wrong. As it’s stated at first time that tea comes from camalia sinesis plant, it’s clear that herbal tea is not the same as tea since herbal tea is other plant, for example seeds originating from South Africa.&lt;br /&gt;b. Drinking tea reduces the risk of cell cancer.&lt;br /&gt;Some researches prove that drinking tea will reduce the risk of cell cancer for rat. Since we are human this myth is absolutely doubtful. Professor Jeffery Blumberd, a nutrition ex pert of Tufts University, states that it’s doubtful drinking tea will reduces the risk of cell cancer. However, he adds that tea reduces the risk of heart attack.&lt;br /&gt;c. Black tea contain more caffeine than green tea.&lt;br /&gt;The only difference between black and green tea is the process. Since both kind of coffee are same, the contain of caffeine is same for both green and black tea.&lt;br /&gt;d. It’s possible to decaffeinate tea by taking some action.&lt;br /&gt;Some people believes that it’s possible to decaffeinate tea by putting tea in hot water for 30 second then lifting out and repeating for many times.&lt;br /&gt;However, it does not decaffeinate tea at all. This action just eliminate cathechin in first 30 second.&lt;br /&gt;e. there is positive correlation between frequency of drinking tea and weight lost of body.&lt;br /&gt;Although it’s well-known that tea good for our healthy, tea does not increase body metabolism. So that, it’s doubtful that tea cut down on weight of body.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; As stated earlier that there are a lot of myths of coffee, exploring of these myths is important. Some of these myths are here :&lt;br /&gt;a. Coffee is not good for our healthy.&lt;br /&gt;It’s fact that too much coffee is not good for pour healthy because of its caffeine. However, some research conducted prove that drinking right proportion of coffee will make us more fresh.&lt;br /&gt;b. Coffee is better served effervescently.&lt;br /&gt;In fact, coffee should not directly be poured into boiling water. If water too hot, the powder of coffee will be burned, and it will affect the taste of coffee. What should be done to get a tasty coffee is to boil water until fully cooked, and then let it some moment until its temperature is about 90 degrees calculus and pour it into coffee.&lt;br /&gt;c. It’s good to serve frozen coffee.&lt;br /&gt;At this time, serving frozen coffee is more preferred because its exclusiveness. However, medical research states that consuming frozen coffee is hazardous.&lt;br /&gt;d. Coffee reduce the drowsiness.&lt;br /&gt;If we are too sleepy and very tired, drinking coffee will effect nothing. However, in normal condition, there is coffee effect although it will not be long.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2208840507222773945-9101966132663836862?l=tempekremes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tempekremes.blogspot.com/feeds/9101966132663836862/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tempekremes.blogspot.com/2009/05/some-myths-of-tea-and-coffee.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2208840507222773945/posts/default/9101966132663836862'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2208840507222773945/posts/default/9101966132663836862'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tempekremes.blogspot.com/2009/05/some-myths-of-tea-and-coffee.html' title='Some myths of  tea and coffee'/><author><name>Moch Hasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15068450408359458490</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_aWck1ZC3J-8/SgQhr7O2ppI/AAAAAAAAAHE/2mO7SnrArjc/s72-c/latteartsample.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2208840507222773945.post-474830616799808661</id><published>2009-05-01T21:18:00.000-07:00</published><updated>2011-04-22T04:17:56.902-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='eling'/><title type='text'>Budaya Ideasioanl</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);font-size:180%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Fenomena ponari memang memberikan warna tersendiri bagi perkembangan kehidupan sosial-budaya masyarakat Indonesia. Seakan fenomena ini memberikan siyalmen kepada bangsa ini untuk melihat realitas lingkungan sekitar dan tidak bersikap apatis. Fenomena "mbah ponari" ini memberikan gambaran bagaimana pola pikir masyarakat kita yang selama ini memiliki hubungan yang sangat erat dengan budaya ideasional dan irasional yang tidak sesuai dengan budaya Islam. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);font-size:180%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Budaya Islam secara tegas menekankan bahwa akal budi menempati tempat yang istemewa. Hal ini tidak terlepas dari pengakuan Islam atas peran akal-budi dalam pembetukan kehidupan sosial masyrakat. Kesesuaian agama dan rasionalitas ini tercermin dari karakteristik ajaran Islam yang menekankan pada sisi rasionalitas. Tentu saja, rasionalitas yang dimaksud bukan hanya rasionalitas yang berpangkal pada nafsu, tetapi rasionalitas yang didasari oleh keteguhan dan kesucian kolbu. Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan kalau Islam menjunjung tinggi rasionalitas dan peran akal dalam konteks sosial-budaya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Menilik lebih jauh fenomena “mbahPonari”, semakin menegaskan bahwa budaya Ideasional sudah sangat melekat erat di hati masyarakat Indonesia. Budaya Ideasional ini menunjukkan bahwa tingkat rasionalitas masyarakat Indonesia masilah minim. Bahkan bisa dikatakan pada titik nadir, mengingat besarnya jumlah masyrakat yang memiliki pola pikir seperti itu. Hal ini tentu saja berpengaruh pada pembentukan mentalitas masyarakat yang memegang peran penting dalam pembangunan bangsa ini. Mentalitas seperti inilah yang nantinya akan mendorong kecenderungen masyrakat pada hal-hal yang bersifat mistik, sehingga tidak mengherankan kalau praktek-praktek perdukunan menjamur di negeri ini. Sebagai konsekunsi logis dari praktek-praktek seperti ini adalah menyebarnya penipuan yang bermotifkan pada hal-hal yang berbau mistik, semisal penggandaan uang, hipnotis, dan praktek-praktek dukun cabul.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Masyarakat dengan budaya ideasional cenderung bersifat pasif terhadap perubahan yang terjadi pada saat ini. Secara mental, mereka percaya dan selalu berharap akan datangnya keajaiban meskipun tanpa ada usaha sama sekali. Tentu saja, hal ini akan mendorong  tindakan-tindakan irrasional dalam menyikapi setiap keadaan yang dihadapinya. Secara ekonomi, masyrakat ideasional cenderung tertinggal dari masyrakat rasional. Hal ini tidaklah mengherankan, mengingat korelasi negatif antara tindakan-tindakan irrasional dengan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Terlebih budaya ideasional mendorong masyrakat untuk bersikap malas dan pasrah tanpa adanya usaha terlebih dahulu dan menyukai akan sesuatu yang bersifat instan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, bukan berarti bahwa rasionalitas itu di atas segalanya. Budaya “barat” yang merupakan representasi dari budaya materialistik yang diklaim sebagai budaya rasional telah terbukti gagal sebagai penyokong peradaban. Hal ini tidak terlepas dari sifat materialistik budaya “barat” yang mengartikan semuanya secara materialis dan hanya terpaku pada kumpulan angka-angka tanpa memahami esensi dari sutu budaya itu sendiri. Selain itu budaya “barat’ cenderung melahirkan manusia-manusia egois, individualis, dan apatis yang tidak peka terhadap lingkungan sekitar. Sebagai gambaran, dalam usahanya memerangi teroris yang tidak jelas tujuannya, Amerika Serikat meningkatkan belanja militer sampai 425 miliar dolar setiap tahunnya. Sementara itu, perekonomian dalam memasuki jurang resesi yang belum jelas ujungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini, ada satu hipotesis yang diajukan yaitu penyatuan budaya rasionalis yang didasarikan pada keteguhan dan kesucian kolbu sehingga sesuai dengan firah manusia yang dianugrahi akal dan pikiran oleh Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2208840507222773945-474830616799808661?l=tempekremes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tempekremes.blogspot.com/feeds/474830616799808661/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tempekremes.blogspot.com/2009/05/budaya-ideasioanl.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2208840507222773945/posts/default/474830616799808661'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2208840507222773945/posts/default/474830616799808661'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tempekremes.blogspot.com/2009/05/budaya-ideasioanl.html' title='Budaya Ideasioanl'/><author><name>Moch Hasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15068450408359458490</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2208840507222773945.post-7318113055961732180</id><published>2009-05-01T20:04:00.000-07:00</published><updated>2011-04-22T04:17:51.330-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='eling'/><title type='text'>Crisis... Lha iyo...lho...</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 153);font-family:trebuchet ms;font-size:130%;"  &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Crisis, wah itu membuat hati merinding. Bagaimana tidak lha itu amanya krisis lho… apa-apa ka jadi muahal-muahal. Apalagi untuk anak kosan yang berkantung mepet dan ngeprs… seperti saya… benar tho… Tapi, meskipun begitu, harus tetap on fire, semangat… krisis pikir belakangan. Ya begitulah…,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau bicara soal krisis ekonomi pasti ruwet, lha… yang membahas propesor-propesor, yang tiap minggu ikut simposium ekonomi dunia, paham detil-detil semua teori ekonomi dan bermandikan angka tiap detiknya, aja ngak rampung-rampung dan selesai kok, apalagi aku, si Kriwul yang amburadul, wah bisa berabe lah… Tapi, yang katanya mahasiswa, dengan segala kekurangan dan kedangkalan pikiran tetep saja mbahas, SOK MANTEB githu… Apalagi pagi minggu, waktu tidur setempat, Sang Ekonominator, Mr. Dlemin, datang ke kamarku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wul, you sudah tahu kabar terbaru krisis ekonomi, ngak…?” mak jeglek, Sang ekonominator sudah di depanku. “ Gimana…? Kok diam saja…, bangun, Wul…!!!”suara khas Dlemin yang begitu cempreng menusuk telingku…&lt;br /&gt;“ Wah… kamu ini kok ngak tahu situasi tho…” mataku masih 45 watt, ngak lebih.&lt;br /&gt;“ Ne newspaper… calon ekonom kok kerjanya tidur melulu, kapan Indonesia maju…?” wah… kalau sudah bicara Indonesia, Mr. dlemin ini pasti on fire, semangt penuh githu…&lt;br /&gt;“ Lha maksudnya gimana tho Mister…? Lha krisi itu dah ada yang ngurus and mikir lho… Kenapa saya ikut... “&lt;br /&gt;“Yak… kepiye saudara Kriwul ini. Kok begitu, Ya dengan adanya krisis ini dijadikan lahan eksperimen tho… lahan latihan untuk mempertajam sense ekonominya”, huh… terpaksa deh… ngladeni mister Ekonominator ini.&lt;br /&gt;“ Lha terus gimana…?”&lt;br /&gt;“ Coba baca Koran itu…, di headlinenya… ayuk…” tanganku menyahut Koran itu, sak klebat, yak…, I got it…&lt;br /&gt;“ Maksudmu yang ini. Berita ini, Mister…?” kutatap sorot matanya… tunggu kepastian.&lt;br /&gt;“ yaks… BETUL…, Saudara betul sekali…!!!” ujung telunjuknya mengarah ke arahku…&lt;br /&gt;“ Terus apa menariknya…?”&lt;br /&gt;“ Wedalah… Saudara ini ka anak ekonnomi… masak ngak tau… Gimana ini…? Saudara ini bagaimana…?” wah, kalau sudah pangil dengan sebutan saudara, Mr. Ekonominator ini jan ngebet…&lt;br /&gt;“Ngak ada yang baru , Mister…,Lha wong cuma begini lho… apanya yang menarik… Hanya memberitakan orang-orang yang pengahasilannya bertambah aja padahal ini waktu krisis, Cuma githu to….!!!! Iya to…!!!”&lt;br /&gt;“ Wah kok ngak nyambung, apa Saudara ngak ada sense kalau krisis ini direncanakan, didesign oleh mereka… Yang namanya saja manusia lho…, kan penginnya panen, ngunduh buah, dan makmur. iya tho…? Kalau krisis semacam ini musim panennya mereka, berarti kan, kedatangan krisis ini diharapkan, benar kan…? Apa ini bukan KONSPIRASI… BETUL TIDAK…?”&lt;br /&gt;“ Wah… mister ngawur, ngak scientific sama sekali, lha krisis itu accident kok, diktkan didesign, apalagi KONSPIRASI… Wah,…&lt;br /&gt;. Ya kalau cari sumber itu yang resmi tho …, Mister”&lt;br /&gt;“O… lha kamu itu sudah manut para Guru-guru, dicekoki buku-buku import ini masalahnya…, Jadi jangan… meskipun saya ini ngak belajar teori-teori ekonomi… ekonomitrik… sense ekonomi saya ini kuat ngak seperti kamu… yang cuma belajar techs book saja untuk cari … bla… bla…, bla…” weleh… weleh… aku diguyur tenan oleh Mister.&lt;br /&gt;“ Wes… dah paham…?” kepalaku mengganguk… nguk… “ Nanti nonton ACARA REAL WORLD ya… katanya Alien mau serang bumi…” Lha…, lak tenan… tho. Tapi, ya begitu, kepalaku masih menganguk saja….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2208840507222773945-7318113055961732180?l=tempekremes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tempekremes.blogspot.com/feeds/7318113055961732180/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tempekremes.blogspot.com/2009/05/crisis-wah-itu-membuat-hati-merinding.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2208840507222773945/posts/default/7318113055961732180'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2208840507222773945/posts/default/7318113055961732180'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tempekremes.blogspot.com/2009/05/crisis-wah-itu-membuat-hati-merinding.html' title='Crisis... Lha iyo...lho...'/><author><name>Moch Hasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15068450408359458490</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2208840507222773945.post-9102746736000107180</id><published>2009-04-25T22:44:00.000-07:00</published><updated>2009-04-25T22:51:17.506-07:00</updated><title type='text'>koalisi..... Enak kali</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:georgia;font-size:130%;"&gt;Politik..., waleh CAMIKAN opo lagi tho itu...???ya. .. tapi daripada kuliah benggong, bahas persoalan politik di Indonesia itu menarik, paling tidak untuk hiburan dan tontonan sekaligus mengetes daya imaginasi kita akan apa yang terjadi sesudahnya, TIDAK LEBIH. Apa saya waskito atau tidak bisa dites dan diuji tingkat signifikansinya lewat ajang politik di Indonesia. Kenapa kok di Indonesia ?? ya.. iyalah bukankan level politik Indonesia itu tingkat tinggi, level PROPESOR dan para orang jenius, apalagi kalau sudah soal eyel-mengeyel, trik and tip ,dan soal kibul-mengibuli, wah jan elok tenan. Salah satunya persoalan koalisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kebetulan membaca harian kompas atau melihat televisi ( tentu yang menyiarkan reriungan politik Indonesia dan liga sepak-menyepak bola, bukan yang menampilkan sinetron saja yang plot cuma marah and nangis.... &lt;span style="font-size:130%;"&gt;JO DITERUSKE GEK MENJURUS PERSOALAN SARA AND SELERA.... &lt;/span&gt;:-$ ) dan secara kebetulan juga, just due to chance, lagi mempunyai mood yang baik untuk membahas bahan selain buku kuliahan, maka secara mengejutkan dan serasi telah terjadi dua fenomena sekaligus dalam waktu yang relatif singkat yang mempengaruhi dunia pikiran angota negara Indonesia, khususnya mereka penikmat bola dan politik. Tapi ya begitulah. . .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut berita yang beredar team kuning sudah cerai dari grup biru. Katanya sih, menurut laporan crindil-crindil, teman guyonan dan reriungan saya,tole-bule , yang secara intens saya misikan untuk mengetahui perkembangannya, and PROGRESSNYA, "sudah ngak ada kecocokan lagi antara kedua belah TEAM dalam menjalin hubungan", begitu lapor mereka "Apalagi kalau dilihat dari keserasian , persamaan, dan kesetaraan nya...", tambah si bule. Singkatnya cerai karena sudah ndak sepaham dalam menjalin hubungan. itu kesimpulan akhir si bule...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ya..., apa benar yang disimpulkan crindil-crindil itu?? Lha mereka itu cuma lulusan Sekolah Paling Dasar lho...!!! . Oleh sebab itu sudah menjadi kewajiban saya untuk meriset and meneliti kebenaran kesimpulan mereka. . . Mikir muter otak... tak pekso otakku mikirne kebenaran iki ... tapi kok yo ndak dapat pencerahan-pencerah an tho.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eh..., dilalah... tole nyletuk, " Masak cuma begitu Bul, mosok karena ngak cocok langsung pisahan saja, apa ngak bisa dirembuk dulu ini. Indonesia kan negara musyawarah, masak ngak bisa dirembuk"&lt;br /&gt;"Lho kok kamu protes to ,Le..., Ya... sudah diputuskan ya... NDAK BISA to, Le...!!!" Bule nyengir " Lha wong katanya team kuning merasa direndahkan kok.... kepiye jal.... ?? ya..., pantes kalo' mereka itu ngambek bin mutung"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Jadi kamu itu bela team kuning tho..., ngaku aja..., Bul...!!! ndak usah koyok ngunu..." Tole ngak sabaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Kalau secara pribadi saya ndak sreg juga... Tapi ya saya maklumi lah ..., Le... namanya aja menungso kok, kallau merasa diremehkan ya... ngambek betul ra...??" daya imaginasi Bule sedang expand and growt " Lha kepiye jal..., koalisi tapi menyakitkan buat team kuning kok. Ya pisah wae... bebas ndak kepekso lan tersio-tersio, selain itu pertunjukane kan lebih seru to..., Le. Kan mundak rame dan rhamai, tidak membosankan. Lagi pula, membuat persaingan lebih sempurna dan fair. . . yen pasar persaingan sempurna kan membuat kompetitif betul dan dead weight loss bisa diminimalisasikan, Benar tidak....?" Bule berfikir, komat-kamit, dan bengong. . . " Tapi..., Ananging..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Yak..., kok kelihatan AROGAN githu kan, Bul..., sedikit-sedikit ngambek, setithtik-setithik protes. Apa mereka ngak mikir katanya kalo rakyat itu bla....bla.. ..grup biru juga... sama saja... ya tho... masak githu aja sudah bingung ... mumet... yen urusane rakyat ngak pernah di buat binggung dan bla.... bla....". saya kaget juga dengan Tole-Bule wah edan....tenan mereka itu. Dapat pencerahan wangsit darimana lho...?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"wes-wes ... ini kan pemilu manusia lha namanya manusia lho... itu semua kan manusiawi kalau mementingkan golongan sendiri..." lidah saya kecut . . . kok tidak nyaman dan tidak penak ngomong begitu di hadapan, Tole-Bule, mereka yang ingat RAKYAT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2208840507222773945-9102746736000107180?l=tempekremes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tempekremes.blogspot.com/feeds/9102746736000107180/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tempekremes.blogspot.com/2009/04/koalisi-enak-kali.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2208840507222773945/posts/default/9102746736000107180'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2208840507222773945/posts/default/9102746736000107180'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tempekremes.blogspot.com/2009/04/koalisi-enak-kali.html' title='koalisi..... Enak kali'/><author><name>Moch Hasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15068450408359458490</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2208840507222773945.post-3155067683714376876</id><published>2009-04-18T21:38:00.000-07:00</published><updated>2011-04-22T04:17:51.330-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='menejemen'/><title type='text'>Komunikasi Organisasi</title><content type='html'>Organizational Communication&lt;br /&gt;Pada sub pokok pembahasan ini ada 3 pokok bahasan. Yang pertama &lt;br /&gt;1. Formal VS Informal communication.&lt;br /&gt;2. Flow pattern of communication.&lt;br /&gt;3. Communication network.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Formal VS Informal communication&lt;br /&gt;a. Formal communication : komunikasi yang mengikuti alur atau rantai komando (chain of command) atau bisa juga komunikasi yang dioperlukan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Contoh : pengarahan menejer terhadap pegawai.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;b. Informal communication : komuikasi yang tidak terdefinisikan oleh struktur hirarkibdari sebuah organisasi. Contoh : obrolan para pekerja disaat senggang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Flow pattern of communication&lt;br /&gt;Komunikasi pada dasarnya memiliki pola-pola tertentu yang dapat diidentifikasikan melihat hubungan komunikasi itu. Ada empat pola, yaitu :&lt;br /&gt;a. Downward communication : komunikasi yang mengalir dari menejer ke pegawai. Ini bisa dalam bentuk informing,directing, coordinating, dan evaluating. Contoh : menejer mengintruksi pegawai.&lt;br /&gt;b. Upward communication : komunikasi yang mengalir dari pegawai ke menejer. Ini untuk memeastikan bahawa menejer mengetahui apa yang terjadi di lingkungan pegawai. Ini bisa berupa laporan kinerja dan kotak saran.&lt;br /&gt;c. Lateral communication : komunikasi yang terjadi antar sesama level tetapi beda komando. Contoh : komunikasi antar pegawai marketing dan finance. Komunikasi ini baik karena mempersingkat waktu dan sumber daya. Tetapi juga harus memperhatikan bahwa menejer mengetahui hasil dari komunikasi itu.&lt;br /&gt;d. Diagonal communication : komunikasi yang terjadi antar level dan komando yang berbeda. Contoh komunikasi antara menejer finance dan pegawai produksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;3.Communication network.&lt;br /&gt;Variasi antar berbagai pola (Downward communication, Upward communication, Lateral communication, dan Diagonal communication) dan formalitas membentuk jaringan komunikasi. Paling tidak ada dua jenis jaringan komunikasi, yaitu formal dan informal. Jaringan organisasi formal terdari dari : chain, whell, dan all-channel. Untuk jaringan organisasi informal ada istilah Grapevine.&lt;br /&gt;1. Jaringan komunikasi formal.&lt;br /&gt;a. Chain : jaringan komunikasi yang mengikuti chin of command dengan pola downward dan upward.&lt;br /&gt;b. Whell : jaringan komunikasi yang terjadi dengan hadirnya karakter pemimpin (menejer) yang kuat.&lt;br /&gt;c. All-channel : jaringan komunikasi yang melalui setiap anggota tim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Jaringan komunikasi informal.&lt;br /&gt;Grapevine : jaringan komunikasi organisasi informal yang terjadi dalam sebuah organisasi. Ini bisa berupa rumor,gosip dan sebagainya. Tentu saja jaringan komuikasi seperti ini memiliki dampak positif dan negatif. Salah satu dampak positifnya adalah keluarnaya pemikiran-pemikiran dan pendapat dengan lebih fleksibel dan cepat. Akan tetapi kalau tidak ada pengendalian juga berbahaya bagi organisasi itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2208840507222773945-3155067683714376876?l=tempekremes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tempekremes.blogspot.com/feeds/3155067683714376876/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tempekremes.blogspot.com/2009/04/komunikasi-organisasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2208840507222773945/posts/default/3155067683714376876'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2208840507222773945/posts/default/3155067683714376876'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tempekremes.blogspot.com/2009/04/komunikasi-organisasi.html' title='Komunikasi Organisasi'/><author><name>Moch Hasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15068450408359458490</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2208840507222773945.post-7445982680105297689</id><published>2009-04-11T21:39:00.000-07:00</published><updated>2011-04-22T04:18:08.145-07:00</updated><title type='text'>Negara, Pesantren... Ada yang cocok..?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_aWck1ZC3J-8/SeFxjaTpdeI/AAAAAAAAAG8/6LmrwI67_hk/s1600-h/hari-jumat-di-gontor.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_aWck1ZC3J-8/SeFxjaTpdeI/AAAAAAAAAG8/6LmrwI67_hk/s320/hari-jumat-di-gontor.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323661087699727842" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Persoalan hubungan antara agama dan negara memang mempunyai dua mata sisi yang saling berlawanan. Dalam satu hubungan yang harmonis dan sinergis antara agama dan negara tentunya membawa pada perubahan besar bagi peradaban suatu bangsa, tetapi tidak pula disangkal bahwa ketika pola hubungan itu kacau maka yang ada hanyalah kemunduran suatu peradaban. Hal ini bisa diartikan kekacauan dan ketidakjelasan pola hubungan menyebabkan malapetaka bagi sejarah kemanusiaan. &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan hubungan negara dan agama tidaklah sesimpel itu. Masdar F. Mas'udi, seorang cendekiawan muslim, menuturkan bahwa sampai saat ini anggapan hubungan sekularistik untuk agama dan negara merupakan opsi yang terbaik. Dalam pola hubungan ini, agama tidak lagi bisa memperalat negara untuk melakukan kedzaliman atas nama Tuhan, demikian pula negara tidak lagi bisa memperalat agama untuk kepentingan penguasa. Bermula dari sinilah muncul dan berkembang dua corak pemikiran yang mewarnai cara pandang terhadap hubungan agama dan negara. Yang menolak hubungan sekuleristik pada umumnya dikarenakan kecurigaan terhadap apa saja yang datang dari Barat. Tanpa mencoba mengerti kesulitan masyarakat Barat sendiri selama bera¬bad abad dalam menata hubungan agama negara, mereka mencurigai sekularisme sebagai gagasan untuk memarjinalkan, menyudutkan, dan menghilangkan esensi Islam dari kehidupan nyata. Sementara itu, kelompok yang menerima berargumen bahwa seperti umumnya agama, Islam pun terbatas jangkaunnya pada urusan pribadi. Jika ia ditarik ke ruang publik (negara) akan membawa petaka seperti yang pernah terjadi di Barat. Sekularisme adalah pilihan terbaik jika kita ingin membiarkan negara dan agama dalam kewajarannya. Biarlah mereka mengurus tugasnya masing-masing; agama di wilayah privat, negara untuk wilayah publik. Namun kalau ditilik lebih jauh, anggapan yang dianggap ideal seperti ini pun masih menyisakan ruang untuk munculnya persoalan-persoalan dalam kehidupan beragama.Salah satu persoalan yang muncul sebagai akibat pandangan sekuleristik pada pola hubungan agama dan negara adalah minimnya peran aktif dari kedua belah pihak dalam penciptaan masyrakat yang lebih baik. Hal ini bisa dimengerti sebab minimnya tanggung jawab negara dalam persoalan keagamaan pada salah satu sisi dan kurangnya religiusitas dalam kehidupan bernegara sehingga berakibat pada turunya kearifan dalam penyelengaraan kehidupan bernegara. Padahal, tidak diragukan lagi bahwa persoalan keagamaan merupakan salah satu persolan penting dalam lingkup sosial kemasyarakatan yang berdampak pada kehidupan berbangsa dan bernegara.&lt;br /&gt;&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/_aWck1ZC3J-8/SeFxjGCYj6I/AAAAAAAAAG0/UsiB7QGB05A/s320/pp_gontor.jpg" style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 180px;" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323661082258608034" /&gt;Selain itu semua, agama memiliki posisi yang penting dalam kehidupan sosial. Hal ini tidak terlepas dari keberadaan masyarakat Indonesia yang religius. Kondisi semacam ini masih tetap bertahan sampai sekarang, bahkan orientasi dan pengamalan keagamaan pada masa kini semakin kuat dari pada masa lalu. Memang hal ini sebenarnya juga terjadi di negara-negara luar Indonesia, baik di dunia Islam maupun lainnya. Dengan kesadaran dan orientasi keagamaan yang tinggi ini sebagian besar umat Islam di Indonesia, yang notabene merupakan kelompok mayoritas di negara ini tetap mempertahankan ajaran-ajaran agama yang diyakinin sebagai suatu kebenaran, dan sebaliknya menolak paham-paham yang menyimpang, diantaranya pemisahan agama dari ranah kehidupan beragama yang menyalahi kesyumulan pemahan akan Islam.Bahkan, sebagaian umat Islam berkeyakinan, bahwa mempertahankan kemurnian ajaran Islam merupakan kewajiban individual (fardhu ain).&lt;br /&gt;Lebih lanjut, pemahaman sekuleristik cenderung meniadakan peran negara dalam pemberdayaan lembaga sosial keagamaan, misalnya pesantren. Hal ini jelas mengancam eksistensi pesantren. Peniadaan peran serta negara dan pemerintah dalam pemberdayaan pesantren menjadikan pesantren termajinalkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Terlebih pesantren sering kali dikaitkan dengan isu-isu negatif, semisal teroris, pelanggaran HAM, dan bias jender. Kalau pun isu-isu tersebut benar, tidak lantas pesantren dicap negatif. Masyarakat luas pun seharusnya ikut bertanggung jawab. Bukankah selama ini kita, masyarakat modern, selalu memarjinalkan dan mendiskritkan pesantren. Oleh sebab itu, sikap penerimaan kita menjadi prioritas dalam penanggapan isu yang ada, bukan sebaliknya hanya bisa dan mau mengecam tanpa pernah memberi pengertian dan solusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2208840507222773945-7445982680105297689?l=tempekremes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tempekremes.blogspot.com/feeds/7445982680105297689/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tempekremes.blogspot.com/2009/04/negara-pesantren-ada-yang-cocok.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2208840507222773945/posts/default/7445982680105297689'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2208840507222773945/posts/default/7445982680105297689'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tempekremes.blogspot.com/2009/04/negara-pesantren-ada-yang-cocok.html' title='Negara, Pesantren... Ada yang cocok..?'/><author><name>Moch Hasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15068450408359458490</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_aWck1ZC3J-8/SeFxjaTpdeI/AAAAAAAAAG8/6LmrwI67_hk/s72-c/hari-jumat-di-gontor.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2208840507222773945.post-7887253831442307175</id><published>2009-04-11T21:34:00.000-07:00</published><updated>2011-04-22T04:18:08.145-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='islam'/><title type='text'>Pesantren......</title><content type='html'>Secara historis, pesantren merupakan lembaga pendidikan yang multifungsi. Ia menjadi benteng pertahanan sekaligus pusat penyiaran (dakwah) Islam. Tidak ada data yang pasti tentang awal kehadiran pesantren di Nusantara (Ensiklopedi Islam, 2005). Baru setelah abad ke-16 diketahui bahwa terdapat ratusan pesantren yang mengajarkan kitab kuning dalam berbagai bidang ilmu agama seperti fikih, tasawuf, dan akidah. &lt;br /&gt;Dalam perkembangannya, pesantren mencatat kemajuan dengan dibukanya pesantren putri dan dilaksanakannya sistem pendidikan madrasah yang mengajarkan pelajaran umum, seperti sejarah, matematika, dan ilmu bumi. Eksistensi pesantren menjadi istimewa karena ia menjadi pendidikan alternatif (penyeimbang) dari pendidikan yang dikembangkan oleh kaum kolonial (Barat) yang hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang. Pesantren menjadi tempat berlabuh umat Islam yang tersingkir secara budaya (pendidikan) akibat perlakuan diskriminatif penjajah.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Kini perkembangan pesantren dengan sistem pendidikannya mampu menyejajarkan diri dengan pendidikan pada umumnya. Bahkan di pesantren dibuka sekolah umum (selain madrasah) sebagaimana layaknya pendidikan umum lainnya. Kedua model pendidikan (sekolah dan madrasah) sama-sama berkembang di pesantren.&lt;br /&gt;Kenyataan ini menjadi aset yang luar biasa baik bagi perkembangan pendidikan pesantren maupun pendidikan nasional pada masa yang akan datang. Dari sana diharapkan tumbuh kaum intelektual yang berwawasan luas dengan landasan spiritual yang kuat.&lt;br /&gt;Pesantren dan negara&lt;br /&gt;Eksistensi pesantren tidak bisa dilepaskan dari peran negara. Ranah kultural yang digeluti pesantren selama ini menjadi landasan yang sangat berarti bagi eksistensi negara. Perjuangan pesantren baik secara fisik maupun secara kultural tidak bisa dihapus dari catatan sejarah negeri ini. Dan kini generasi santri tersebut mulai memasuki jabatan-jabatan publik (pemerintah) yang dulunya hanya sebatas mimpi.&lt;br /&gt;Landasan kultural yang ditanamkan kuat di pesantren diharapkan menjadi guidence dalam implementasi berbagai tugas baik pada ranah sosial, ekonomi, hukum, maupun politik baik di lembaga pemerintahan maupun swasta yang konsisten, transparan, dan akuntabel. Ini penting karena pesantren merupakan kawah candradimuka bagi munculnya agent of social change. Dan negara sangat berkepentingan atas tumbuhnya generasi yang mumpuni dan berkualitas. Oleh sebab itu, kepedulian dan perhatian negara bagi perkembangan pesantren sangat diperlukan.&lt;br /&gt;Kalau selama ini pesantren telah menyumbangkan seluruh dayanya untuk kepentingan warga negara (negara), maka harus ada simbiosis mutualistis antara keduanya. Sudah waktunya negara (pemerintah) memberikan perhatian serius atas kelangsungan pesantren. Kalau selama ini pesantren bisa eksis dengan swadaya, maka eksistensi tersebut akan lebih maksimal apabila didukung oleh negara. Apalagi tantangan ke depan tentu lebih berat karena dinamika sosial juga semakin kompleks. Oleh sebab itu, diperlukan revitalisasi relasi antara pesantren dan pemerintah yang selama ini berjalan apa adanya.&lt;br /&gt;Selama ini sistem pendidikan nasional belum sepenuhnya ditangani secara maksimal. Beberapa departemen melaksanakan pendidikannya sendiri (kedinasan) sesuai dengan arah dan orientasi departemen masing-masing. Sejatinya pendidikan di sebuah negara berada dalam sebuah sistem terpadu sehingga menghasilkan output yang maksimal bagi kepentingan nasional, bukan hanya kepentingan sektoral.&lt;br /&gt;Inilah salah satu problem yang dihadapi sistem pendidikan nasional saat ini. Terpencarnya penyelenggaraan pendidikan menyebabkan banyak masalah. Salah satunya adalah alokasi anggaran yang tidak maksimal. Selama ini pemerintah memandang pendidikan sebagai bagian Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas). Oleh sebab itu, seluruh anggaran pendidikan dialokasikan untuk Depdiknas. Konsekuensinya pendidikan di bawah departemen lain mendapatkan alokasi dana seadanya.&lt;br /&gt;Kenyataan tersebut tentu merupakan konsekuensi dari paradigma struktural yang melihat pendidikan hanya merupakan tanggung jawab Depdiknas. Kita bisa menyaksikan kesenjangan dana yang diterima madrasah (Depag) dengan sekolah umum atau antara perguruan tinggi Islam seperti IAIN/UIN yang dibawah kendali Depag dengan perguruan tinggi umum yang langsung ditangani Depdiknas.&lt;br /&gt;Menambah alokasi dana pendidikan pada Depag akan berkonsekuensi pada membengkaknya anggaran pendidikan nasional yang sampai saat ini negara belum mampu memenuhinya sesuai ketentuan konstitusi, yaitu 20 persen dari APBN. Di samping itu, secara struktural kerja pendidikan yang dilakukan beberapa departemen tidak efektif dan merupakan pemborosan anggaran negara. Oleh sebab itu, pengelolaan pendidikan di bawah satu atap (Depdiknas) akan lebih efektif dan efisien dibandingkan diserahkan pada beberapa departemen.&lt;br /&gt;Begitupun pesantren dan madrasah yang selama ini eksistensinya lebih bersifat swadaya akan lebih maksimal apabila dikelola dengan pendanaan dan pembinaan yang lebih memadai. Apalagi saat ini pesantren mulai menyesuaikan diri dengan pendidikan umum dan standar pendidikan nasional, termasuk mendirikan sekolah umum. Berangkat dari realitas tersebut, dengan kesiapan dan penyesuaian yang dilakukan pesantren serta efektivitas dan efisiensi penyelenggaraan pendidikan, maka sudah waktunya pengelolaan pendidikan pesantren dimasukkan di bawah Depdiknas.&lt;br /&gt;Pesantren masa depan&lt;br /&gt;Eksistensi pesantren di tengah pergulatan modernitas saat ini tetap signifikan. Pesantren yang secara historis mampu memerankan dirinya sebagai benteng pertahanan dari penjajahan, kini seharusnya dapat memerankan diri sebagai benteng pertahanan dari imperialisme budaya yang begitu kuat menghegemoni kehidupan masyarakat, khususnya di perkotaan. Pesantren tetap menjadi pelabuhan bagi generasi muda agar tidak terseret dalam arus modernisme yang menjebaknya dalam kehampaan spiritual.&lt;br /&gt;Keberadaan pesantren sampai saat ini membuktikan keberhasilannya menjawab tantangan zaman. Namun akselerasi modernitas yang begitu cepat menuntut pesantren untuk tanggap secara cepat pula, sehingga eksistensinya tetap relevan dan signifikan. Masa depan pesantren ditentukan oleh sejauhmana pesantren menformulasikan dirinya menjadi pesantren yang mampu menjawab tuntutan masa depan tanpa kehilangan jati dirinya.&lt;br /&gt;Langkah ke arah tersebut tampaknya telah dilakukan pesantren melalui sikap akomodatifnya terhadap perkembangan teknologi modern dengan tetap menjadikan kajian agama sebagai rujukan segalanya. Kemampuan adaptatif pesantren atas perkembangan zaman justru memperkuat eksistensinya sekaligus menunjukkan keunggulannya. Keunggulan tersebut terletak pada kemampuan pesantren menggabungkan kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual. Dari pesantren sejatinya lahir manusia paripurna yang membawa masyarakat (negara) ini mampu menapaki modernitas tanpa kehilangan akar spiritualitasnya. Inilah pesantren masa depan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2208840507222773945-7887253831442307175?l=tempekremes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tempekremes.blogspot.com/feeds/7887253831442307175/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tempekremes.blogspot.com/2009/04/pesantren.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2208840507222773945/posts/default/7887253831442307175'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2208840507222773945/posts/default/7887253831442307175'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tempekremes.blogspot.com/2009/04/pesantren.html' title='Pesantren......'/><author><name>Moch Hasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15068450408359458490</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2208840507222773945.post-7444955691965249273</id><published>2009-04-07T22:39:00.000-07:00</published><updated>2011-04-22T04:17:56.903-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='karawitan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jawa'/><title type='text'>Kebudayaan Jawa .... Apa itu?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_aWck1ZC3J-8/Sdw6EWpaRmI/AAAAAAAAAGs/K1BMCss6GdM/s1600-h/pemade-gong_kebyar_300a.jpeg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_aWck1ZC3J-8/Sdw6EWpaRmI/AAAAAAAAAGs/K1BMCss6GdM/s320/pemade-gong_kebyar_300a.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5322192706118239842" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“….. Demikian juga selain mengenai masalah kibijaksanaan, tahu sebelum mendapatkan pengajaran serta mengenai segala hal tentang ilmu kesaktian, bisa menghilang serta tampak seperti yang aku ceritakan kepadamu tadi. Sebab di hamparan bentangan bumi dan dibawah langit yang mendapatkan ijin untuk memperlihatkan kebijaksanaan, kesaktian yang luar biasa, hanyalah Engkau beserta sanak keluargamu. “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi kelebihan orang-orang di barat daya negeri Hindi tersebut, hanya sebatas kemampuan manusia biasa. Adapun yang menguasai Negara, raja atau pembesar di negeri Hindi dan seterusnya serta pulau-pulau di tenggara negeri Hindi, secara turun-temurun tidak ada lain, semua itu berasal dari silsilahmu serta silsilah para dewa keluargamu.” (Paramayoga Ranggawarsita, Otto Sukatno Cr.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya banyak para lajêr Jawa yang memiliki perhatian dan telah melakukan kegiatan-kegiatan untuk kebangkitan budaya dan peradaban Jawa. Namun sejauh ini belum terbentuk organisasi dan tersusun suatu ‘Perencanaan Program’ yang memadai. Kenyataan yang ada justru menunjukkan cerai berainya para penggiat ke-Jawa-an tersebut. Egoisme perorangan maupun kelompok mengemuka sehingga tidak ada kesatuan visi maupun misi dalam upaya membangkitkan budaya dan peradaban Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luasnya cakupan budaya dan peradaban Jawa merupakan salah satu kendala banyak pihak yang berusaha membangkitkan budaya dan peradaban Jawa. Kemudian soal pendanaan menjadi kendala berikutnya sehingga memandekkan kegiatan yang diadakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertolak dari data-data sebagaimana disebutkan, maka wacana renaissance Jawa oleh Yayasan Sekar Jagad ini digulirkan. Bahwa gerakan ini merupakan kesadaran dan keinginan seluas-luasnya masyarakat Jawa sendiri. Maka strategi awalnya brupa upaya-upaya membangun kesadaran masyarakat Jawa untuk memahami ke-Jawa-annya sendiri. Untuk itu diperlukan jabaran atau definisi ‘Jawa’ yang rasional mencakup:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Siapakah wông Jawa ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Definisi dan pengertian ke-Jawa-an (budaya dan peradaban Jawa)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Nilai-nilai (values) ke-Jawa-an (budaya dan peradaban Jawa)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Nilai-nilai budaya dan peradaban Jawa yang mau dihidupkan kembali, dipertahankan dan dikembangkan serta ‘kebersinggungan’ (hybrid interconectedness)-nya dengan budaya dan peradaban lain, terutama budaya dan peradaban Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Nilai-nilai utama filosofi Jawa yang akan dikontribusikan ke dalam nilai-nilai ke-Indonesia-an&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Alur proses untuk No. 4 dan No. 5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Aliran (flow) untuk No. 6 melalui wahana/means apa ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Program tindak lanjut, perbaikan dan pengembangan yang berke-lanjutan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Delapan ‘kerangka acuan selisik’ tersebut di atas memerlukan ‘sumbang saran’ atau ‘curah gagas’ dari para pihak dengan kapasitas keahlian/keilmuan masing-masing yang kemudian dirangkum dalam suatu ‘musyawarah bersama’ guna menyusun ‘Rencana Program Renaissance Jawa’ yang paripurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan berikut merupakan ‘pembuka’ untuk bisa kiranya mendapatkan respon para pihak. Sehingga dengan demikian bisa semakin mendalam selisik bersama yang kita adakan terhadap delapan hal acuan dimaksud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merasa diri belum memadai dalam banyak hal, maka penulis mohon maaf sekiranya ‘sajian pemancing’ ini kurang mengena. Kiranya baru sebatas inilah pemikiran yang dimiliki penulis dalam rangka ikut mengabdikan ‘kawruh’ kepada upaya renaissance Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumangga, swuhn.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapakah wông Jawa ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak pendapat (teori) untuk menelusuri asal-usul orang Jawa. Ada yang berdasar kajian ilmiah dan ada pula yang berdasar mitologi dan dongeng-dongeng. Diantaranya bisa disajikan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Teori yang selama ini didoktrinkan dan diajarkan kepada kita, bahwa wông Jawa itu termasuk “Ras Melayu” yang cikal bakalnya berasal dari tempat yang dinamakan “Hindia Belakang”. Ras Melayu menyebar ke Nusantara karena terdesak oleh migrasi Ras Arya dan Ras Mongolia dari arah pedalaman Asia Daratan. Teori migrasi yang menyebutkan nenek moyang wông Jawa (Nusantara) dari Hindia Belakang ini berpijak dari asumsi bahwa Ras Arya, Ras Kaukasus dan Ras Mongolia adalah “Ras Manusia” yang lebih dulu beradab dibanding ras-ras manusia lainnya di dunia ini. Maka bila didasarkan kepada teori ini, Jawa dianggap belum memiliki budaya dan peradaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Berdasarkan ‘dongeng ngayawara’ yang dikemas sebagai ‘ramalan Jayabaya’, maka orang Jawa adalah kumpulan orang-orang dari Asia Daratan yang dikirimkan ke P. Jawa atas perintah ‘Kaisar Rum’ yang memprihatinkan keadaan P Jawa yang tidak berpenghuni. Teori awur-awuran ini justru banyak diyakinai orang Jawa sendiri. Termasuk mempercayai gunung Tidar (di Magelang) sebagai ‘pantek’ (tiang pancang) yang memaku pulau Jawa agar tenang dan bisa dihuni manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Menurut cerita kakawin (Mataram Kuno – Majapahit) dan serat-serat kapujanggan (Mataram Kartosuro – Surakarta), maka orang Jawa jelata adalah penjilmaan dari para binatang dan lelembut, sementara para raja-rajanya anak keturunan dewa yang merupakan keturunan Bathara Guru (Sang Hyang Jagadnata).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Berdasar teori anthropologi menyatakan bahwa ‘homo sapiens’ (manusia baru) berdatangan ke Jawa dari Mongolia dan Asia Daratan lainnya. Migrasi besar-besaran terjadi ketika jaman es mencair.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Temuan arkeologi berupa fosil manusia purba di Sangiran dan Mojokerto membuktikan bahwa jutaan tahun yang lalu Jawa sudah dihuni mahluk ciptaan Tuhan. Namun sampai saat ini belum bisa dibuktikan adanya evolusi manusia purba menjadi manusia baru (homo sapiens).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Berdasar ciri-ciri fisik orang Jawa, maka menunjukkan bahwa orang Jawa merupakan hasil asimilasi berbagai ras dan etnis. Mongolia, Melayu, Melanesia, bahkan Negrito ada jejak ciri fisiknya pada wông Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua teori asal-usul nenek moyang orang Jawa tersebut kenyataannya masih relatif. Maka kemudian definisi untuk orang Jawa adalah yang menggunakan bahasa Jawa. Berdasar definisi ini, menarik untuk dikemukan definisi bahasa :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bahasa adalah kesatuan perkataan dan sistem penggunaannya yang umum dalam pergaulan antar anggota suatu masyarakat atau bangsa dengan kesamaan letak geografi atau kesamaan budaya dan tradisi. Dengan demikian, selain memiliki fungsi utama sebagai wahana berkomunikasi, bahasa juga memiliki peran sebagai alat ekspresi budaya yang mencerminkan bangsa penggunanya.” [1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertolak dari definisi bahasa tersebut di atas, maka bahasa Jawa merupakan ekspresi budaya Jawa. Dengan demikian yang disebut wông Jawa asumsinya adalah yang terampil menggunakan bahasa Jawa lisan dan tulisan serta kental dengan aras budaya Jawa itu sendiri. Asumsi ini memang belum sepenuhnya bisa dijadikan definisi Jawa, namun bisa digunakan untuk melanjutkan selisik terhadap ke-Jawa-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke-Jawa-an (Budaya dan Peradaban Jawa)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menelisik makna ke-Jawa-an atau budaya dan peradaban Jawa, maka perlu diawali dengan merekonstruksi pandangan hidup (filosofi) Jawa. Sementara dalam perjalanan sejarahnya, Jawa banyak mengalami transformasi budaya yang menghasilkan sinkretisme dan berdampak kepada perubahan ‘pandangan hidup’ Jawa. Namun demikian, banyak unsur-unsur budaya yang bisa dijejaki sebagai budaya asli Jawa. Dalam hal ini hasil penelitian Prof. Brandes (1889) bisa dijadikan rujukan untuk menelisik lembih lanjut. 10 (sepuluh) unsur budaya asli Jawa yang dinyatakan Prof. Brandes adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanian beririgasi&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelayaran&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metrum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbintangan&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengecoran logam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wayang&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata uang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gamelan&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem pemerintahan yang teratur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Brandes, 1889).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasar hasil penelitian dan selisik Prof. Brandes tersebut maka bisa diambil asumsi bahwa Jawa telah beradab sejak jaman sebelum masuknya budaya dan peradaban dari luar. Beberapa unsur budaya yang disebut Prof. Brandes ada yang dimiliki oleh etnis-etnis lain di Nusantara dan daratan Asia, namun ada pula yang khas Jawa. Dengan demikian, pendapat yang menyatakan bahwa budaya dan peradaban Jawa hasil turunan dari Asia Daratan (Hindia Belakang) tidak seluruhnya benar. Justru sebaliknya, kemungkinan besar Asia Daratan yang menerima sebaran budaya dan peradaban dari Jawa. Landasan pemikirannya bahwa Jawa (Nusantara) merupakan bangsa bahari hingga memiliki kemampuan mengarungi samudera, sementara bangsa-bangsa Asia Daratan bukan bangsa bahari. Meskipun pengembara, namun pengembaraan mereka berada di daratan. Maka pada kitab kuno peninggalan bangsa Asia Daratan (Ramayana dan Mahabharata) tidak ada diskripsi tentang kapal dan perahu. Sedangkan diskripsi kapal dan perahu itu ada di Nusantara. Diantaranya pada kitab kuno Bugis, I La Galigo. Di Jawa, bahkan berupa pahatan relief di dinding candi Borobudur. Oleh karena itu wacana Jawa (Nusantara) menyebarkan budaya dan peradabannya ke seluruh penjuru dunia menarik untuk dikaji lebih mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selisik para peneliti lain menyatakan bahwa masyarakat Jawa mempunyai pandangan tentang ‘yang ada’ merupakan ‘kesatuan tunggal semesta’[2] yang terhubungkan secara ‘kosmis-magis’ antara ‘jagad gêdhé’ (alam semesta) dan ‘jagad cilik’ (manusia). Pijakannya bertolak dari ‘kawruh sangkan paran’ dan ‘memayu hayuning bawana’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kedua kawruh Jawa tersebut bisa kita rumuskan aras/dasar filosofi Jawa :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kesadaran ber-Tuhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya bahwa filosofi Jawa menyatakan adanya Tuhan sebagai Kang Murbeng Alam (Penguasa Alam Semesta). Pernyataan dalam ‘kawruh sangkan paran’ : semua yang ada berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kesadaran Semesta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merupakan ekspresi kesadaran adanya hubungan kosmis-magis manusia dengan alam semesta. Wujud ekspresinya berupa pandangan Jawa tentang ‘Bapa Angkasa’ dan ‘Ibu Bumi’. Menurut pandangan Jawa ini, maka ‘uripe manungsa’ disangga unsur-unsur dari angkasa dan bumi yang ‘kasuksma’ oleh ‘dzat sejatining urip’. dari filosofi ini pula diturunkan konsep wacana ‘manunggaling kawula gusti’ dan ‘sedulur papat kalima pancer’. [3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kesadaran wajib beradab bagi umat manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ide dasar ‘Kesatuan Tunggal Semesta’ melahirkan ajaran kewajiban manusia untuk ‘melu memayu hayuning bawana’. Maknanya bahwa kewajiban manusia sebagai ‘ciptaan Tuhan’ adalah ikut menyangga ‘Kesatuan Tunggal Semesta’. Keluarannya berupa ‘nilai rukun’ dan ‘nilai selaras’ yang harus dioperasionalkan oleh manusia Jawa. Mengoperasionalkan ‘nilai rukun’ dan ‘nilai selaras’ merupakan ekspresi keberadaban. Di dalamnya terkandung: kemerdekaan, kesejahteraan umum dan perdamaian abadi dalam rangka manusia hidup bersama dengan manusia lain, bahkan dengan semua mahluk ciptaan Tuhan. Landasannya, bahwa setiap manusia memiliki ‘sedulur tunggal dina kelairan’ yang wujudnya adalah anak semua titah dumadi yang lahir pada hari yang sama dengan manusia tersebut. Kesadaran bersaudara dengan semua ‘titah dumadi’ merupakan tingkat tertinggi dari keberadaban manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan 3 (tiga) aras filosofi Jawa tersebut diatas budaya dan peradaban Jawa berpijak. Artinya, bahwa semua budaya dan tata peradaban Jawa memuat (mengandung) aras kesadaran ber-Tuhan, aras kesadaran semesta, dan keberadaban manusia. Contohnya dalam ritual ‘sedekah bumi’. Disamping pembacaan doa kepada Tuhan, ada mantra-mantra dan sesaji yang dipersembahkan kepada alam semesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantra dan sesaji memang sering dijastifikasi sebagai klenik dan tahayul. Namun jastifikasi ini menunjukkan ‘kebodohan’, karena membaca mantra dan bersesaji untuk komunikasi dengan alam semesta merupakan suatu tingkat keberadaban manusia. Keberadaban sebagai hasil olah nalar, olah pikir, dan olah kebatinan (spiritual). Hanya titah manusia yang diberi kelebihan demikian. Mahluk lain, seperti binatang, tidak memiliki kemampuan olah nalar, olah rasa dan olah kebatinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa Jawa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepuluh unsur budaya yang dikemukakan Prof. Brandes tidak menyebut tentang bahasa Jawa (lisan dan tulis). Menilik unsur-unsur yang disebut, logikanya semua unsur tersebut terekspresikan dan menyebar melalui bahasa (lisan dan tulis). Karena berkaitan dengan budaya Jawa, maka bahasa tersebut juga bahasa Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada umumnya penelitian dan penelisikan tentang budaya dan peradaban Jawa jaman kuno melalui peninggalan arkeologis (prasasti) yang menggunakan bahasa Sanskerta dengan aksara Dewanagari dan bahasa Kawi (Jawa Kuno) dengan aksara Jawa Kuno. Padahal penggunaan bahasa dan aksara tersebut mencakup geografis yang lebih luas dari geografi komunitas Jawa asli. Oleh karena itu, sering menimbulkan suatu ‘wacana miring’ yang menyatakan ‘Jawa menjajah unsur-unsur lain di Nusantara (Indonesia)’. Padahal yang terjadi, sepanjang sejarahnya Jawa justru berada dalam kekuasaan wangsa-wangsa yang tidak selalu asli Jawa. Hal ini dengan jelas bisa dijejaki lewat banyak cerita kakawin dan serat kapujanggan. Statemen para raja Jawa yang menyatakan sebagai keturunan wangsa Bharata (India) yang ke atasnya lagi para dewa cukup membuktikan bahwa ‘Elite Penguasa Jawa’ jaman kuno bukanlah ‘pribumi’ Jawa. Demikian pula pember-lakuan bahasa Kawi (Jawa Kuno) sejak Jaman Mataram Hindu sampai Majapahit menunjukkan ‘kooptasi’ wangsa-wangsa penguasa tersebut kepada Jawa, Sunda, Bali dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun bentuk kooptasi wangsa-wangsa tersebut bukan ‘penja-jahan’, maka diterima bahkan didukung. Prinsipnya sebagaimana Jawa sekarang mendukung NKRI. Maka boleh diduga bahwa pada masa kuno eksistensi bahasa daerah (termasuk) Jawa tetap berjalan berdampingan dengan bahasa pemersatu (Sanskerta dan Kawi). Bahkan yang terjadi banyak budaya dan peradaban Jawa diadopsi oleh wangsa-wangsa penguasa tersebut dan disebarkan ke seluruh wilayah kekuasaannya. Bukti untuk itu adalah pembuatan ‘Ankor Watt’ (abad 12 Masehi) di Kamboja oleh tenaga kerja (seniman pematung dan pembuat candi) dari Jawa.[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pendapat Bung Karno[5], Indonesia (Nusantara) pernah memiliki Negara Bangsa dua kali sebelum NKRI. Yang pertama di masa Sriwijaya dan yang kedua Majapahit. Pada kedua Negara bangsa tersebut diberlakukan bahasa pemersatu (lingua franca). Jaman Sriwijaya menggunakan bahasa Melayu Kuno dan jaman Majapahit bahasa Jawa Kuno meneruskan dinasti-dinasti sebelumnya. Demikian pula termasuk bahasa tulis (aksara) – nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Majapahit (pusat pemerintahan di Jawa) runtuh, maka ikut runtuh pula bahasa Jawa Kuno yang menjadi bahasa pemersatu. Setiap daerah di wilayah Majapahit kembali ke bahasa aslinya, termasuk penggunaan aksaranya. Pasundan dan Bali langsung mengaktifkan kembali bahasa dan aksaranya. Sementara Jawa yang sudah banyak dipengaruhi Islam justru memberlakukan aksara ‘Arab Pegon’. Hal ini bisa dimaklumi karena penguasa Jawa (Demak, Cirebon, Banten) merupakan kesultanan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kekuasaan Jawa pindah ke pedalaman (Pajang &amp; Mataram) yang pengaruh Islamnya tidak sekuat di Pesisir Utara (Demak, Cirebon, Banten), maka mulai berkembang penggunaan ‘Aksara Carakan’. Pada pemerintahan Sultan Agung ‘Aksara Carakan’ resmi digunakan dalam pemerintahannya. Termasuk penetapan Kalender Jawa yang berlaku hingga sekarang ini juga dilakukan pada masa pemerintahan Sultan Agung. Maka secara samar-samar bisa dikatakan bahwa pada masa Sultan Agung tersebut dimulainya ‘renaissance Jawa’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebangkitan Jawa masa Sultan Agung semakin berkembang dan mencapai puncaknya ketika jaman Kapujanggan di Kasunanan Surakarta Hadiningrat. ‘Pemberontakan’ Jawa terhadap pengaruh-pengaruh budaya asing (Hindu, Buddha, Islam) terekspresikan dengan lugas melalui karya-karya para pujangga tersebut. Media penyebarannya menggunakan ‘tembang-tembang’ yang ternyata sangat efektif bisa mencakup ke pelosok-pelosok desa. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat bawah Jawa masih belum tersentuh oleh ‘bahasa pemersatu’ dari wangsa-wangsa yang pernah berkuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berawal dari ‘kebangkitan’ Jawa pada masa Kapujanggan inilah terjadi semacam ‘rivalitas’ ajaran (filosofi) Jawa dengan ajaran agama (Islam). Kepentingan-kepentingan politik penjajah Belanda ikut bermain hingga mempertajam ‘rivalitas’ tersebut. Maka di masa ini ikut lahir dan berkembang Kejawen dalam arti kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa khas Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikarenakan ada ‘rivalitas’ tersebut, maka pada masa jaman Kapujanggan inilah mulai ditulis kembali cerita-cerita kakawin dengan bahasa Jawa dan aksara Jawa (Carakan). Namun penulisan ulangnya ternyata dimasuki ‘pemberontakan’ Jawa terhadap dominasi budaya dan peradaban asing dimaksud. Diantaranya merubah karakter tokoh-tokoh dalam kisah Mahabharata sebagaimana karakter Drona yang aslinya terhormat manjadi tokoh yang dilecehkan. Karakter buruk Pendhita Durna bukan sekedar ‘aksi melawan’ dominasi Hindu, namun secara terang-terangan justru sebagai ‘aksi perlawanan’ terhadap peradaban Arab yang terbawa pada penyebaran agama Islam. Maka boleh diamti figur Dorna tersebut dalam boneka wayang kulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kecerdikan luar biasa, pada masa itu disusun karangan untuk mengedepankan ‘ideologi Jawa’. Diantaranya berupa ceritera mitos yang mempertemukan mitologi India (Hindu), Srilangka (Buddha), Timur Tengah – Rum/Arbun (Islam) dan Jawa[6]. Melalui karangan tersebut tersirat secara halus ‘keunggulan’ Jawa dalam konsep teologi dan mitologi. Demikian pula tentang peradaban Jawa yang mengedepankan ‘nilai rukun’ dan ‘nilai selaras’ dan mentabukan konflik antar sesama titah dumadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa Kapujanggan menyiratkan terjadinya ‘benturan antar peradaban’ di Jawa. Intensitasnya menjadikan bahasa Jawa beserta huruf Carakan berkembang pesat karena dipakai sebagai sarana defensif Jawa terhadap masuknya budaya dan peradaban asing (Arab, Cina, Belanda, dll.). Dampak lain dari ‘benturan antar peradaban’ (the battle of civilization) adalah lahirnya kembali (renaissance) nilai-nilai dalam budaya dan peradaban Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa Jawa di masa Kapujanggan mengalami kemajuan yang luar biasa. Pada masa ini lahir bahasa Jawa yang bertingkat-tingkat sesuai penggunaannya. Mulai bahasa untuk pergaulan antar manusia sehari-hari (ngoko dan krama tengahan), bahasa krama inggil untuk kalangan priyayi, bahasa pedalangan, sampai kepada bahasa mantra yang digunakan untuk komunikasi dengan titah gaib. Banyak falsafah (ajaran) dan ide Jawa ditulis dengan menggunakan aksara Jawa yang aksara tersebut disosialisasikan sedemikian rupa mengandung makna filosofis. Barangkali saja pemberian makna filosofis terhadap aksara Jawa sebagai upaya halus para cendekiawan Jawa terhadap dominasi huruf Arab yang sosialisasinya ‘ada nilai pahala pada setiap hurufnya’. Wallahu’alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Renaissance Jawa pada jaman Kapujanggan merupakan titik awal Jawa memperoleh ‘kedaulatan spirituil’. Masa sebelumnya tidak pernah eksis karena selalu berintegrasi dan berada di bawah budaya dan peradaban yang berlaku untuk seluruh wilayah Nusantara. Eksistensi Jawa ini semakin berkembang ketika pemerintah Hindia Belanda membuka sekolah-sekolah di Jawa. Sebaran nilai-nilai Jawa yang tadinya berada hanya di pusat kerajaan (kota) dengan media sekolah tersebut menyebar ke pelosok-pelosok desa. Guru-guru sekolah tersebut dididik sebelumnya dengan nuansa Barat (Belanda), maka yang terjadi sebenarnya adalah sebaran budaya Jawa yang termoderenkan Barat. Artinya mulai bersinggungan budaya dan peradaban Jawa dengan modernisasi Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cakrawala putra-putra Jawa terbuka dan kemudian mampu menatap ‘dunia luar’ ketika kemudian banyak putra priyayi Jawa berkesempatan melanjutkan pendidikan ke Negeri Belanda. Arus perubahan menuju modernisasi menjadi bertambah kuat. hal ini mempengaruhi orang Jawa untuk lebih fokus belajar budaya dan peradaban Barat. Dampaknya orang lebih cenderung menguasai bahasa Melayu dan aksara Latin katimbang bahasa Jawa dan aksara Carakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Indonesia diberdirikan, bahasa Melayu diangkat menjadi bahasa Indonesia dan dijadikan bahasa persatuan nasional, maka orang Jawa semakin cenderung untuk mampu dan terampil berbahasa Indonesia. Demikian pula penguasaan bahasa tulis Latin lebih populer katimbang penguasaan aksara Carakan. Hal yang wajar karena penguasaan bahasa tulis Latin dan bahasa lisan Indonesia serta bahasa asing merupakan sarana mengglobal dan ‘mobilitas ke atas’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai-nilai ke-Jawa-an&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai suatu peradaban manusia, maka Jawa memiliki nilai-nilai (values) yang berguna dan mampu memandu bagi manusianya untuk menjalani hidup. Pada kenyataannya, hidup manusia tidaklah sendirian tetapi bersama manusia yang lain maupun semua mahluk ciptaan Tuhan lainnya. Secara umum nilai-nilai budaya dan peradaban suatu komunitas manusia ada yang bersifat unuiversal, tetapi juga ada yang hanya berlaku untuk komunitas manusia yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks Jawa sebagai bagian Indonesia dan bagian peradaban seluruh umat manusia, maka nilai-nilai ke-Jawa-an yang perlu diselisik adalah yang berkaitan dengan kepentingan ke-Indonesia-an dan kemanusiaan sejagad. Namun demikian, diperlukan diskripsi dari ke-Jawa-an mencakup :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Spiritualisme Jawa, meliputi konsep teologi, mitologi, kosmologi menurut pandangan Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Falsafah Jawa (Kawruh Kejawen), ajaran/tuntunan hidup Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Laku Budaya Jawa dan Tradisi/Adat Jawa, jabaran tentang ritus-ritus Jawa: kelahiran, perkawinan, kematian, ruwatan, selamatan, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Seni Budaya Jawa, pagelaran wayang, karawitan, kidungan dan macapatan, ilmu kalang (arsitek Jawa), keris, batik, gerabah, ukir, patung, seni tari, dlsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Bahasa dan Sastra Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lingkup cakupan bisa diperluas, namun membutuhkan para pakar dan penelitian intensif sehingga diskripsi yang dihasilkan valid untuk diangkat ke atas dan disebarkan sebagai persembahan Jawa kepada ke-Indonesia-an dan peradaban umat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak jaman prasejarah hingga era modernisasi saat ini, nilai-nilai ke-Jawa-an belum pernah didiskripsikan untuk menjadi suatu ‘studi’. Namun secara alamiah telah mengalirkan nilai-nilainya ke peradaban Indonesia dan mungkin dunia. Ke dalam, Jawa tidak memiliki lembaga dan sistim pengajaran dari generasi ke generasi. Maka tidak memiliki manajemen dan strategi dalam bertahan terhadap gerusan budaya dan peradaban lain. Namun demikian, kenyataannya masih ulet dan belum lenyap dari muka bumi. Justru merupakan misteri akan ‘ketahanan alamiahnya’ menghadapi deraan dan gerusan budaya dan peradaban lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai indikasi yang menunjukkan ‘ketahanan Jawa’ tersebut diantaranya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Aliran masuk budaya dan peradaban India melalui sebaran agama Hindu dan Budha di Jawa cukup intensif dan bermasa panjang (seribu tahunan), Bahkan wangsa-wangsa pembawa agama Hindu dan Budha pernah mengalami kejayaannya di Jawa. Namun ketika wangsa-wangsa itu surut, di Jawa hanya tertinggal candi-candi tempat peribadatan tanpa komunitas kedua agama tersebut yang signifikan. Sikjap wong Jawa terhadap candi-candi yang tertinggal begitu acuh tidak punya perhatian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Sinkretisme Budha-Hindu Syiwa-Kejawen membuat Majapahit begitu jaya, namun ketika runtuh tidak meninggalkan bekas yang signifikan pada budaya dan peradaban Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Sebaran agama Islam yang berjalan sejak abad 11 M sampai sekarang, ternyata belum mampu mengkooptasi Jawa. Mayoritas muslim Jawa tidak paham dengan arti doa mereka ketika bersembahyang kepada Tuhan. Seolah-olah kesediaan Jawa menerima Islam sekedar ‘lamis’, dilapis luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Eksistensi bahasa Jawa Ngoko masih terus berjalan sampai saat ini meskipun tanpa sistim pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indikasi ‘ketahanan Jawa’ tersebut secara nyata menunjukkan kepada kita, bahwa ada ‘keuletan’ Jawa beradaptasi terhadap perubahan-perubahan yang dijalani. Bahkan yang menarik, Jawa selalu mampu meredam terjadinya konflik antar komunitas manusia di buminya. Hal ini sangat menarik untuk dikaji mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Tim Perumus Kurikulum Bahasa Indonesia untuk SMK, Dikmenjur - Diknas, 2003.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Istilah dari penulis (KSM).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Bawarasa Kawruh Kejawen, Ki Sondong Mandali – Yayasan Sekar Jagad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] Laporan reportase Jaya Suprana dalam tayangan TV&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] Pidato Lahirnya Pancasila 1 Juni 1945&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6] Serat Kandha (Yasadipura I) dan Serat Paramayoga (Ranggawarsita).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2208840507222773945-7444955691965249273?l=tempekremes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tempekremes.blogspot.com/feeds/7444955691965249273/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tempekremes.blogspot.com/2009/04/kebudayaan-jawa-apa-itu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2208840507222773945/posts/default/7444955691965249273'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2208840507222773945/posts/default/7444955691965249273'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tempekremes.blogspot.com/2009/04/kebudayaan-jawa-apa-itu.html' title='Kebudayaan Jawa .... Apa itu?'/><author><name>Moch Hasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15068450408359458490</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_aWck1ZC3J-8/Sdw6EWpaRmI/AAAAAAAAAGs/K1BMCss6GdM/s72-c/pemade-gong_kebyar_300a.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2208840507222773945.post-5735011484497261693</id><published>2009-04-07T21:29:00.000-07:00</published><updated>2009-04-28T01:49:09.949-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='liburan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='karawitan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jawa'/><title type='text'>Karawitan Jawa Sebuah permulaan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_aWck1ZC3J-8/Sdw3hwmkq8I/AAAAAAAAAGk/bBSvHaw7m-k/s1600-h/250px-Traditional_indonesian_instruments02.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 250px; height: 167px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_aWck1ZC3J-8/Sdw3hwmkq8I/AAAAAAAAAGk/bBSvHaw7m-k/s320/250px-Traditional_indonesian_instruments02.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5322189912766983106" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menghargai suatu produk kebudayaan pada dasarnya adalah penegasan atas identitas diri. Oleh sebab itu sangat disayangkan jika kaum muda saat ini tidak PD dan MINDER dengan kebudayaan sendiri. Memang  kadangkala semua itu dibungkus dengan selera dan keinginnan tapi terlepas dari itu semua, kebudayaan sendiri harus DITEGAKKAN demi menjaga identitas diri...&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Karawitan jawa, apa sebenarnya karawitan jawa itu? apa itu nyamian yang enak dilahap untuk sore-sore , atau apalah? jadi apa sebenarnya karawitan jawa itu?&lt;br /&gt;Secara mum karawitan itu suatu istilah khusus yang mempuanyai asosiasi dengan musik gamelan. Asal kata akrawitan itu sendiri berasal dari bahasa sansekerta, yakni rawit, yang mempunyai arti keharmonisan, elegan dan kehaluasan. Namun menurut pendpat yang lain karawitan berasal dari pangrawit yang berarti orang atau subjek yang memiliki perasaan tersebut. Jadi bisa dikatakan bahwa seni Karawitan adalah seni meng&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;olah bunyi benda atau alat bunyi-bunyian (instrumen) tradisional, yaitu gamelan. Memeang karawitan dan gamelan merupakan dua sisi mata uang yang tidak bisa terbagi dan tidak bisa dipisahkan. Sedangkan gamelan itu sendiri instrumen musik yang yang biasanya menonjolkan metalofon, gambang, gendang, dan gong. Orkes gamelan kebanyakan terdapat di pulau Jawa, Madura, Bali, dan Lombok. Proses pembuatan orkes gamelan pun terbilang cukup rumit. Hal ini tidak terpisahkan dengan banyaknya instrumen yang digunakan dalam permainan seni musik karawitan. Selain itu juga diperlukan keserasian dan keharmonisan dalam permainan ini. Cara permainan gamelan itu sendiri ada empat, yakni sléndro, pélog, "Degung" (khusus daerah Sunda, atau Jawa Barat), dan "madenda" (juga dikenal sebagai diatonis). Untuk Sléndro, skala tangga nada yang  diguna&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;kan adalah dasar, hanya lima nada dekat yang berjarak hampir sama dalam satu oktaf.Oleh karena itu mempunyai interval sempurna keempat yang lebih sempit, sekitar 480 sen daripada skala pelog yang lebih lebar.Tangga nada slendro biasa disebut dengan&lt;br /&gt; * 1 - siji - ji&lt;br /&gt; * 2 - loro - ro&lt;br /&gt; * 3 - telu - lu&lt;br /&gt; * 5 - lima - ma&lt;br /&gt; * 6 - enem - nem&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan untuk karawitan jawa, tentu saja mengunakan gamelan jawa yang terdiri dari Kendang Bonang,Bonang Penerus, Demung, Saron, Peking (Gamelan), Kenong &amp;amp; Kethuk, Slenthem, Gender, Gong,     Gambang, Rebab, Siter,dan Suling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2208840507222773945-5735011484497261693?l=tempekremes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tempekremes.blogspot.com/feeds/5735011484497261693/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tempekremes.blogspot.com/2009/04/karawitan-jawa-sebuah-permulaan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2208840507222773945/posts/default/5735011484497261693'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2208840507222773945/posts/default/5735011484497261693'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tempekremes.blogspot.com/2009/04/karawitan-jawa-sebuah-permulaan.html' title='Karawitan Jawa Sebuah permulaan'/><author><name>Moch Hasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15068450408359458490</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_aWck1ZC3J-8/Sdw3hwmkq8I/AAAAAAAAAGk/bBSvHaw7m-k/s72-c/250px-Traditional_indonesian_instruments02.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2208840507222773945.post-8457773650383812507</id><published>2009-04-03T03:11:00.000-07:00</published><updated>2009-04-03T03:35:10.792-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ra weruh wong edan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='liburan'/><title type='text'>Naruto buat apa DIBACA...?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_aWck1ZC3J-8/SdXl59NoPAI/AAAAAAAAAFU/g598y6QisAU/s1600-h/2350579450_36db967ec8.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_aWck1ZC3J-8/SdXl59NoPAI/AAAAAAAAAFU/g598y6QisAU/s320/2350579450_36db967ec8.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5320411318655138818" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Komik naruto seakan menjadi bacaan wajib bagi setiap orang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak peduli dia seorang mahasiswa ataupun anak kecil, semua gandrung and suka baca komik naruto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi apa masalah nya.... adakah yang menarik dari komik ini sehingga perlu dibaca berulang kali..... huhi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;uHUuhi......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Sewaktu menjadi mahasiswa aku terjadang bingung . Mau apa coba..? aku ngak tau apapun yang harus aku jalani semu yang aku lakukan hanyalah main-main belaka. TAK LEBIH.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FEUI... wek....wekk..... di sini kadang aku merasa bahwa aku harus mempunyai pola pikir yang berbeda. Memang ekonomi itu bagian dari ilmu sosial, AKAN TETAPI hal itu tidak semuanya benar. pola penalaran dan cara pandang di ekonomi sangat BERBEDA dengan ilmu sosial lain. Maklumlah... ilmu ini memang ilmu yang tergolong kejam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekonomi cenderung mendorong manusi untuk individualisTIS, tau kan apa maksudnya? kalau di kelas anda mencoba melakukan penalaran ekonomi dengan ilmu budaya pasti kacau... diBUAT BEGO lah intinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus apa hubunganyan dengan dengan NARUTO..... waduh masak ngak tau...???&lt;br /&gt;GINI, naruto itu bisa dianggap penyeimbang pola pikir para ekonom. MAKSUDNYA??? ya.... supaya ekonomo itu tidak melulu bahas persoalan individu tapi juga.... sosial dan kemanusiaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2208840507222773945-8457773650383812507?l=tempekremes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tempekremes.blogspot.com/feeds/8457773650383812507/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tempekremes.blogspot.com/2009/04/naruto-buat-apa-dibaca.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2208840507222773945/posts/default/8457773650383812507'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2208840507222773945/posts/default/8457773650383812507'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tempekremes.blogspot.com/2009/04/naruto-buat-apa-dibaca.html' title='Naruto buat apa DIBACA...?'/><author><name>Moch Hasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15068450408359458490</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_aWck1ZC3J-8/SdXl59NoPAI/AAAAAAAAAFU/g598y6QisAU/s72-c/2350579450_36db967ec8.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2208840507222773945.post-1681377710517915240</id><published>2009-04-03T02:27:00.000-07:00</published><updated>2009-04-03T03:36:05.708-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='liburan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='eling'/><title type='text'>Impian dan cita</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_aWck1ZC3J-8/SdXW9REPiXI/AAAAAAAAAE0/m1BKal1-oAM/s1600-h/pena.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 250px; height: 250px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_aWck1ZC3J-8/SdXW9REPiXI/AAAAAAAAAE0/m1BKal1-oAM/s320/pena.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5320394882849671538" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Di suat saat ketika seorang ayah mengajari anak-anaknya tentang pentingnya cita-cita. Cita-cita dipandang sebagai central destini yang mengarahkan seorang anak pada masa depannya. Tapi begitulah ketika seorang anak tercemari oleh kehidupan yang jahat apa jadinya?? bagaimana pola pikirnya? sanyangnya saya juga tida tahu....... TAPI,....&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari gerimis mendung menyelimuti, Acil, seorang balita yang masih gemas-gemasnya melangkah ke arah Ayahnya. Ada yang ingin ingin ia utarakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Ayah...ayah... apa adek harus punya cita-cita deh kayaknya... itu penting kan ... Yah?", Acil lansung ngucap aja setelah di sampik ayahnya...&lt;br /&gt;" O.. acail itu bagus memenag manusia itu harus punya cita-cita", terang sang Ayah. Dalam hati sang ayang merasa bangga dengan perkembangan anaknya..."Acil pasti anak luar biasa... hebat", gumamnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" misalnya , apa dong, Yah...?", Tanya Acil sambil menatap pelu[puk ayahnya.&lt;br /&gt;"Acil sukanya apa? misal kalo' ayah kan suka maen komputer jadi cita-cita jadi teknisi komputer itu kan bagus...", sang ayah mencoba menjelaskan..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"O.... jadi kalo begitu... tiu yang suka nampang da teve suka ambil lauk ayhnya ya.. kok sekarang pada pada masuk penjara..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Hah.....????" sang tak tau apa yang harus diucapkan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2208840507222773945-1681377710517915240?l=tempekremes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tempekremes.blogspot.com/feeds/1681377710517915240/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tempekremes.blogspot.com/2009/04/impian-dan-cita.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2208840507222773945/posts/default/1681377710517915240'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2208840507222773945/posts/default/1681377710517915240'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tempekremes.blogspot.com/2009/04/impian-dan-cita.html' title='Impian dan cita'/><author><name>Moch Hasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15068450408359458490</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_aWck1ZC3J-8/SdXW9REPiXI/AAAAAAAAAE0/m1BKal1-oAM/s72-c/pena.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2208840507222773945.post-7004463851053131554</id><published>2009-04-01T02:27:00.000-07:00</published><updated>2009-04-02T20:27:54.227-07:00</updated><title type='text'>berdasarkan KATANYA... sehingga...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_aWck1ZC3J-8/SdM4_bfPlNI/AAAAAAAAAEE/QcuGNg5vHYU/s1600-h/images.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 110px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_aWck1ZC3J-8/SdM4_bfPlNI/AAAAAAAAAEE/QcuGNg5vHYU/s320/images.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5319658247216403666" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blink&gt;Katanya sih eh katanya....... NEXT&lt;br /&gt;&lt;/blink&gt;begitulah mereka mengatakanya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi apa benar begitu kenyataanya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ini lah... eh katanya&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Katanya sih.. mahasiswa itu agent of change. Mereka tuh orang yang DIANGGAP mampu menuntaskan masalah bangsa ini yang super uwet and jlimet. So what is the next?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau mahasiswa itu harapan jadi saya yang ngak karo-karoan ini harapan bangsa dong. Kenapa ??? soalnya saya ini kan mahasiswa, jadi harapan bangsa dong.. next..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KALAU saya ini harapan bangsa jadi say ini orang penting dong... benarkan...?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saya orang penting, berarti saya turut menentukan nasib negri ini ... Ada yang keberatan...? Ngak ada kan..?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saya penentu nasib bangsa, BERARTI kalau membunuh saya itu sama artinya membununh bangsa kan...? kalo' ngebantu saya berarti ,membangun bangsa DONG...? ada yang salah... engak kan???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INI artinya kalau mau membangun bangsa, bantu GUA dong.. GUA ini kan mahasiwa..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TRUZZZZ.... kalau stimulus fiskal dimaksudkan untuk membangun bangsa tidak hanya ekonominya.... KASAIH SEMUANY KE SAYA DONGG&gt;&gt;&gt; benar ngak...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ah... huuHIIHIHi HUAHUA....HU...... HUA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2208840507222773945-7004463851053131554?l=tempekremes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tempekremes.blogspot.com/feeds/7004463851053131554/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tempekremes.blogspot.com/2009/04/berdasarkan-katanya-sehingga.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2208840507222773945/posts/default/7004463851053131554'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2208840507222773945/posts/default/7004463851053131554'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tempekremes.blogspot.com/2009/04/berdasarkan-katanya-sehingga.html' title='berdasarkan KATANYA... sehingga...'/><author><name>Moch Hasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15068450408359458490</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_aWck1ZC3J-8/SdM4_bfPlNI/AAAAAAAAAEE/QcuGNg5vHYU/s72-c/images.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2208840507222773945.post-2344845192037351259</id><published>2009-04-01T01:58:00.001-07:00</published><updated>2009-04-03T02:26:40.281-07:00</updated><title type='text'>Impian.....???</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_aWck1ZC3J-8/SdMy2S0hP5I/AAAAAAAAAD8/7TdgGBXsLzg/s1600-h/sunrise-at-lovina-beach-4.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_aWck1ZC3J-8/SdMy2S0hP5I/AAAAAAAAAD8/7TdgGBXsLzg/s320/sunrise-at-lovina-beach-4.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5319651493201133458" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Di suat saat ketika seorang ayah mengajari anak-anaknya tentang pentingnya cita-cita. Cita-cita dipandang sebagai central destini yang mengarahkan seorang anak pada masa depannya. Tapi begitulah ketika seorang anak tercemari oleh kehidupan yang jahat apa jadinya?? bagaimana pola pikirnya? sanyangnya saya juga tida tahu....... TAPI,....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari gerimis mendung menyelimuti, Acil, seorang balita yang masih gemas-gemasnya melangkah ke arah Ayahnya. Ada yang ingin ingin ia utarakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Ayah...ayah... apa adek harus punya cita-cita deh kayaknya... itu penting kan ... Yah?", Acil lansung ngucap aja setelah di sampik ayahnya...&lt;br /&gt;" O.. acail itu bagus memenag manusia itu harus punya cita-cita", terang sang Ayah. Dalam hati sang ayang merasa bangga dengan perkembangan anaknya..."Acil pasti anak luar biasa... hebat", gumamnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" misalnya , apa dong, Yah...?", Tanya Acil sambil menatap pelu[puk ayahnya.&lt;br /&gt;"Acil sukanya apa? misal kalo' ayah kan suka maen komputer jadi cita-cita jadi teknisi komputer itu kan bagus...", sang ayah mencoba menjelaskan..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"O.... jadi kalo begitu... tiu yang suka nampang da teve suka ambil lauk ayhnya ya.. kok sekarang pada pada masuk penjara..." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Hah.....????" sang tak tau apa yang harus diucapkan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2208840507222773945-2344845192037351259?l=tempekremes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tempekremes.blogspot.com/feeds/2344845192037351259/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tempekremes.blogspot.com/2009/04/impian.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2208840507222773945/posts/default/2344845192037351259'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2208840507222773945/posts/default/2344845192037351259'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tempekremes.blogspot.com/2009/04/impian.html' title='Impian.....???'/><author><name>Moch Hasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15068450408359458490</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_aWck1ZC3J-8/SdMy2S0hP5I/AAAAAAAAAD8/7TdgGBXsLzg/s72-c/sunrise-at-lovina-beach-4.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2208840507222773945.post-2493152684265681992</id><published>2009-03-30T20:37:00.000-07:00</published><updated>2009-04-01T04:32:56.455-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ekonomi kebo'/><title type='text'>Stimulus fiskal ... CAIR????</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_aWck1ZC3J-8/SdGXDFC9oAI/AAAAAAAAAD0/Zb0Tar3sN4A/s1600-h/o510HTT6Xq.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 250px; height: 250px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_aWck1ZC3J-8/SdGXDFC9oAI/AAAAAAAAAD0/Zb0Tar3sN4A/s320/o510HTT6Xq.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5319198714051272706" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Stimulus fiskal &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;apa itu..?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;untuk perekonomian nasional....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;apa iya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waduhhh ada apa ini ya....? &lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paket stimulus fisakal yang dikeluarkan pemerintah memang memberi udara segar bagi perekonomian yang lagi lesu seperti saat ini. Terlebih stimulus fiskal tersebut mampu menggerakkan sektor riil sehingga dapat menangkal damapak krisis global. Namun pengalokasian stimulus fiskal ini yang perlu diperhatikan. Sampai saat ini, kebijakan stimulus fiskal hanya diarahkan pada pembanggunan infrastruktur yang diharapkan mampu menjadi motor perekonomiaan. Apa benar....???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Okelah... dengan asumsi bahwa perbaikan infrastruktur maka perekonomian kian terdongkrak dan menjadi  penggerak sektor riil, pengalokasian stimulus fiskal untuk infrastruktur dinilai sangat tepat... Tapi sampai saat ini terlihat jelas bahawa tak ada korelasi antara PEMBIAYAYAAN PROYEK INFRASTUKTUR dengan perekonomian riel... tau masalahnya...??? lihat aja kalau pergi ke pasar, logikanya kalau ada proyek jalan halus, tetapi ... ya betul ternyata baru tiga bulan dah bolong sana-sini... kemana STIMULUS FISKAL....????? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;untukku ... untukmu.... dan untuk kita.... MEREKA...??? lupakan aja&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;DASAR CAH EDAN....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2208840507222773945-2493152684265681992?l=tempekremes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tempekremes.blogspot.com/feeds/2493152684265681992/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tempekremes.blogspot.com/2009/03/stimulus-fiskal-cair.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2208840507222773945/posts/default/2493152684265681992'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2208840507222773945/posts/default/2493152684265681992'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tempekremes.blogspot.com/2009/03/stimulus-fiskal-cair.html' title='Stimulus fiskal ... CAIR????'/><author><name>Moch Hasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15068450408359458490</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_aWck1ZC3J-8/SdGXDFC9oAI/AAAAAAAAAD0/Zb0Tar3sN4A/s72-c/o510HTT6Xq.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2208840507222773945.post-1140064036399565998</id><published>2009-03-30T03:36:00.000-07:00</published><updated>2009-03-30T04:00:35.576-07:00</updated><title type='text'>Situ Gintung ... Siapa perduli...?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_aWck1ZC3J-8/SdClrbRl0uI/AAAAAAAAADs/6pGWcsvzfH8/s1600-h/nnmqdz.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 319px; height: 177px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_aWck1ZC3J-8/SdClrbRl0uI/AAAAAAAAADs/6pGWcsvzfH8/s320/nnmqdz.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5318933325399053026" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tak habis-habisnya bencana melanda Bumi Indonesia. Entah apa yang sebenarnya terjadi, aku sama sekali tak mengerti.. tapi yang pasti... tragedi SITU GINTUNG telah mebawa luka yang parah, membuat hati miris akan nasib.. negeri ini... duh gusti nopo maleh niki..????&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Stak banyak suar mencuat, pagi begitu tenang, tapi siap sangka maut akan tiba begitu saja tanpa ada peringatan terlebih dahulu. Tragedi Situ Gintung hanyalah sepercik trgedi negeri ini. Lelah rasanya mengigat berapa banyak tragedi yang telah terjadi. &lt;br /&gt;Ah memang manusia itu yempatnya kesalahan dan kealpoaan tak manusia yang tak pernah salah... Ya,... aku teringat begitu kata orang bijak. Tapi di lain sisi aku tak habis pikir bagaimana tragedi semacam inin bisa terjadi... SIAPA yang BERTANGGUNG JAWAB...???? tak ada... uhHHH...uh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi memang begitulah kenyataanya. Pemerintah dalam ini Departemen Pekerjaan Ummum hanya bisa bersedih dan turut belasungkawa ngak lebih... terus apa Yang harus diperbuat...??? tanya aja Kementrian Pekerjaan Ummum? dalam suatu diskusi di radio swasta pihak kementrian PU terkesan lepas tangan . Terlebih mereka hanya mengangap ini sebagai kesalahan bencana yang ngak bisa ditawar... " mau apalagi", katanya. tetapi ketika salang seorang responden menginkan tanggung jawab moral dari mereka ... mereka hanya nyengir... ngak lebih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ealah... pancen dunyone ruwet.... OPO KERJANE DIREKTORAT WADUK..????? TURU KARO MANCING RA LUWEH . WADUK JEBOL... PANCEN NASEB.... edAN. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2208840507222773945-1140064036399565998?l=tempekremes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tempekremes.blogspot.com/feeds/1140064036399565998/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tempekremes.blogspot.com/2009/03/situ-gintung-siapa-perduli.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2208840507222773945/posts/default/1140064036399565998'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2208840507222773945/posts/default/1140064036399565998'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tempekremes.blogspot.com/2009/03/situ-gintung-siapa-perduli.html' title='Situ Gintung ... Siapa perduli...?'/><author><name>Moch Hasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15068450408359458490</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_aWck1ZC3J-8/SdClrbRl0uI/AAAAAAAAADs/6pGWcsvzfH8/s72-c/nnmqdz.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2208840507222773945.post-6336706639255801591</id><published>2009-03-25T02:48:00.001-07:00</published><updated>2009-03-25T02:53:30.276-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pemilu'/><title type='text'>Ah… Demokrasi Semua Sibuk</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hingar-bingar pesta demokrasi telah telah dimulai. Berbagai partai politik mulai sibuk menarik perhatian rakyat. Tidak berlebihan, toh… itu merupakan bagian dari existensi sebagai partai politik. Begitu pula dengan elite-elite politik, mereka berkeliaran, menyebar, dan awas-mengawasi satu dengan yang lain. Maklum ini merupakan pesta besar lima tahunan. Lihat saja harian ibu kota tak ada yang tidak menyajikan politik sebagai headline. Semua sibuk menyambut pesta lima tahunan ini. Ibu kota gerah, panas… dan memanas. Adakah yang menarik? Tentu ada, Adakah benefitnya? Ya iyalah…. Akan tetapi, Sesuaikah dengan harga yang harus dibayarkan untuk pesta demokrasi ini? Ehm… ah&lt;/span&gt;…&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tensi perpolitikan nasional memang memanas. Terlebih di ibu kota, Jakarta, pusat kegiatan politik nasional. Jangankan pemilu legislatif, pemilihan presiden pun sudah tertanamkan dalam agenda mereka. Seakan tidak ada hari esok untuk pemilu, tidak ada kata tunda, harus cepat dan cepat meskipun mereka populer dangan kemalasan, tapi tidak untuk saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Partai Demokarasi Indonesia Perjuanagan, misalnya, telah menetapkan calon presiden mereka. Partai terliaht begitu sibuk dengan aktifitas politiknya. Dalam rakernas ІІІ di solo pada akhir januarai 2009, PDIP membuka wacana koalisi dan cawapres. Kemudian berkembanglah nama-nama Surya Paloh, Prabowo Subianto, Sri Sultan dan Hidayat Nur Wahid. Jaln oposisi yang diambil oleh PDIP merupakan pilihan mereka, hak mereka. Hal itu merupakan salah satu strategi untuk memuluskan tujuan politik mereka. Paling tidak, ada beberapa poin penting berkaitan kesibukan partai ini. Pertama, sikap oposisi yang diambil partai. Kedua, “kreativitas” Ibu Mega dengan kritik yang dilontarkan. Ketiga, gagasan koalisi yang dilontarkan partai. Untuk kesibukan pertama dan ketiga itu sah-sah saja. Itu hak mereka sebagai partai politik, meskipun tekadang rakyat, dibuat “ngak ngerti” apa yang dibicarakan. Khusus poin kedua memperlihatkan kualitas, motif, dan ambisi tokoh ini. Apa yang diperoleh rakyat negeri ini dengan komertar “poco-poco”, “yoyo”, dan “ BLT mendidik rakyat untuk mengemis”? Apa tidak sanyang enrgi tokoh yang di-nasional-kan habis terbuang untuk susuatu yang sia-sia belaka? ya…, tapi itulah reliatas kesibukan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain langit, lain pula buminya. Pada tanggal 8 Februari Ahmad Mubarok, Wakil Ketua Umum Partai Demokrat, cari kesibukan baru. Selorohan atas Yusuf Kalla dengan Partai Golkarnya menjadi bola salju yang terus membesar. Kesibukan berkomentar, berseloroh tumbuh bak jamur di musim penghujan. Serentetan tokoh-tokoh yang di-nasional-kan sibuk bermain dengan bola yang dilontarkan Mubarok. Tidak ketinggalan SBY, JK, Surya Paloh, Pramono Anung, UU Rukmana ikut serta meramaikan pesta demokrasi lima tahunan ini. Ramai…, panas, dan menggerahkan. Di tempat lain Yusril Ihza Mahendra sibuk dengan keabsahan putusan MK tentang penolakan uji materi terhadap UU No. 42/ 2008 yang dilakukan oleh Saurip Kadi bersama tujuh papol, yakni Hanura, PDP, PIS, Partai Buruh, PBB, Partai Peduli Rakyat Nasional, dan Partai Republik Nasional. Selain Yusril, ada Sutiyoso dan Rizal Ramli yang sibuk bingung dengan keputusan MK dan media massa pun sibuk meliputnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan KPU? tentu saja, sebagai pihak penyelenggara KPU juga sibuk dengan semakin dekatnya pesta demokrasi, mulai dari kurangnya budget yang dianggarkan, persoalan teknis penyelenggaraan pemilu, kelengkapan logistik, dan persoalan klausul daftar pemilih tetap yang rumit. Untuk poin yang terakhir ini perdebatan antara pemerintah, komisi ІІ DPR, dan KPU semakin seru dan tentunya membuat mereka semakin sibuk pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas berapa biaya yang dikeluarkan untuk kesibukan menyambut pesta demokrasi ini? Sulit untuk mengkalkulasinya. Tapi, yang pasti UU Nomor 45 Tahun 2007 tentang APBN 2008 mengalokasikan dana untuk keperluan penyelenggaraan Pemilu 2009 sebesar Rp6,67 triliun dan untuk keperluan operasional Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebesar Rp793,9 miliar. Selain itu, sepanjang 2008, riset AC Nielsen menunjukkan iklan politik menghabiskan dana Rp 2,2 triliun atau naik 66 persen dibandingkan tahun 2007 sebesar Rp 1,31 triliun masuk media cetak. Sisanya Rp 862 miliar di televisi dan Rp 86 miliar di majalah. Tentu saja, angka-angka di atas hanyalah gambaran sedangkan untuk mencari angka yang sebenarnya sama sulitnya dengan mengurai benang merah kasus BLBI yang tidak mungkin terselesaikan lagi. Apalagi, angka itu baru memperlihatkan primary cost saja, belum sosial cost yang ditanggung rakyat sebagai akibat kesibukan elite partai politik untuk bercekcok ria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang saya baru teringat seloroh Domen, teman satu kosan, “ E..alah…, tuku sampah wae larannge koyok demit, gumun aku”( Aduh…, beli sampah aja mahal sekali, heran aku). Akan tetapi, nasi sudah jadi bubur, gong sudah dipukul, dan roda sudah berjalan. Sekarang jakarta panas dengan kesibukan elite politik untuk bercekcok ria, sikut kanan tendang kiri. Namun yang pasti kesibukan bukanlah hak preogratif mereka di senayan. Si anto, Si Cipluk, Si Ujang juga sibuk berkeringat di perempatan Gatot Subroto “ Besok, kite makan ngak, ya?”. Apalagi, Dukun cilik asal Jombang, Ponari, yang sibuk mencelupkan batu untuk mereka yang tiadak pernah melihat lantai rumah rumah sakit. Ah…, semua memang sibuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber pustaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Kompas 22 Februari 2009.&lt;br /&gt;  2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Media Indonesia 21 Februari 2009.&lt;br /&gt;  3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Koran Tempo 21 Februari 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2208840507222773945-6336706639255801591?l=tempekremes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tempekremes.blogspot.com/feeds/6336706639255801591/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tempekremes.blogspot.com/2009/03/ah-demokrasi-semua-sibuk.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2208840507222773945/posts/default/6336706639255801591'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2208840507222773945/posts/default/6336706639255801591'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tempekremes.blogspot.com/2009/03/ah-demokrasi-semua-sibuk.html' title='Ah… Demokrasi Semua Sibuk'/><author><name>Moch Hasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15068450408359458490</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2208840507222773945.post-3751409549628046854</id><published>2009-03-25T02:15:00.000-07:00</published><updated>2009-03-25T02:20:37.012-07:00</updated><title type='text'>saya, anda, dan KEANGKUHAN kita...</title><content type='html'>KEHIDUPAN TERUS BERDETAK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;boleh anda bicara soal keadilan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;perjuangan, ataupun impian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAPI…, pada akhirnya realitaslah yang berbicara….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunyi guntur terdengar beberapa kali “Gler… Gler…”. Hari semakin gelap berselimut awan hitam. Hujan akan segera turun. Mata penulis menerawang, jalan terburu-terburu. Ah… ini hari yang melelahkan. Setelah sekian menit, terdengar samar-samar gemuruh yel-yel mahasiswa pendukung tim futsal kesayanganya bertanding di Pertamina Hall. Maklumlah, pada hari ini memang sedang diselenggarakan kompetisi futsal antarfakultas di lingkungan Universitas Indonesia.&lt;span id="fullpost"&gt;Pada saat yang hampir bersamaan, penulis menangkap gerakan hilir-mudik sekelompok cendekiawan ekonomi yang sedang menuju gedung dekanat. Rupanya sedang diselenggarakan talk-show perekonomian Indonesia. Di sisi dunia lain, jarum jam menunjuk angka tiga lebih sekian menit, mata penulis menangkap suatu keberadaan yang jauh nan di sana. Seorang lelaki setengah baya dengan penh peluh menenteng satu panci aluminium. Dengan berkaos oblong yang sobek pada lengan bagian kanannya, lelaki setengah itu menatap tumpukan kue bakpo yang masih memenuhi pancinya. Merasa yakin atas apa yang penulis cari, penulis segera terpicu, melintasi sederetan mobil-mobil mewah civitas akdemia Fakulyas Ekonomi Universitas Indonesia, menuju arah jembatan teksas, tempat Bapak Pristanto menjajakan bakponya.&lt;br /&gt;Perkenalan penulis dengan Bapak Pristanto berlangsung singkat, meskipun begitu, penulis terbawa menyelami lautan kehidupan Bapak Pristanto yang tidak mudah dibayangkan. Kontradiksi realitas sosial yang ada di lingkungan Universitas Indonesia, mungkin kata itulah yang sedikit menggambarkan.&lt;br /&gt;Bapak Pristanto, begitulah beliau memperkenalkan diri, menampakkan guratan wajah yang sarat akan asin-getir kehidupan. Guratan wajah beliau menunjukkan umur sekitar empat puluhan tahun. Dari sisi penampilan, beliau kelewat sederhana. Seperti pada umumnya, sebagai seorang kepala rumah tangga, Bapak Pristanto tentu berharap mampu memberikan yang terbaik bagi keluarga, terutama anak-anak beliau. Bagi beliau, keluarga adalah surga yang Allah amanahkan kepada beliau. Sambil mengudap bakpo hangat yang lezat, penulis mendengarkan penuturan Bapak Pristanto atas perjalanan hidup beliau. Menurut penuturan beliau, sudah enam tahunan beliau bekerja sebagai penjual bakpo di lingkungan Universitas Indonesia. Bahkan, karena pengalaman beliau yang bertahun-yahun beliau bisa membedakan mahasiswa-mahasiswa yang bersedia menikmati kelezatan bakponya, termasuk penulis. Biasanya, Bapak Pristanto sudah mulai bersiap-siap untuk menjajakan bakponya sejak pukul delapan pagi hari. Tiadak ada rute khusus yang ditempuh beliau. Hanya menuruti ‘felling’ dan kata hati, begitulah Bapak Pristanto menjajakan bakponya. Begitu pula untuk waktu pulang, tidak ada jadwal khusus. “Biasanya sih… pukul setengah enamanlah baru pulang”, tuturnya ,”itupun kalo’ bakpo dah abis semua”. Kalau belum habis, terpaksa menunggu sampai semua bakpo habis terjual.&lt;br /&gt;Jika pada umumnya, penulis dan aktivis-aktivis kampus disibukkan dengan impian atas pemikiran-pemikiran yang revolusioner yang menyangkut kemandirian, kemajuan dan kebangkitan bangsa, khususnya menyangkut perekonomian Indonesia. Bahkan tidak jarang diskusi-diskusi tersebut dihiasi dengan acara-acara hedonis yang dianggap membebaskan kita dari kepenatan rutinitas kuliah.Terlebih jauh lagi, kita, mahasiswa, dengan percaya dirinya seringkali mengklaim atas kepedulian kita kepada masyarakat. Di ruang kuliah, topik-topik Corporate Social Responsibility, Pemberdayaan UKM, dan perekonomian rakyat selalu menjadi topik yang menarik untuk dikaji lebih dalam. Bahkan, tidak jarang diselenggarakan berbagai seminar, talk-show, dan pameran dengan tema utama pemberdayaan masyarakat kelas tengah menengah kebawah. Akan tetapi, coba tanyakan kepada Bapak Pristanto. “ ….aduh…, ngak kepikiran tu, Dek…!!!”. Seorang Bapak Pristanto tentu saja tidak menjangkau apa yang mahasiswa diskusikan. Akan tetapi, satu hal yang perlu diingat bahwa dalam kesedarhanaan pola pikir beliaulah realitas sosial mampu dijawab. Tidak dengan tumpukan kertas yang penuh dengan teori-teori dalam kelas, tetapi dengan tindakan nyata.&lt;br /&gt;Tidak hanya itu, dalam alam bawah sadar Bapak Pristanto tidak pernah terbersit pikiran untuk meminta sumbang-asih ataupun uluran tangan dari pihak Universitas Indonesia. “Itu mah… jauh, Dek…!! Ngak pernah kepikiran sama sekali”, cetusnya. Ketika penulis menuturkan berbagai kegiatan sosial yang diselenggarakan sebagai bentuk kepedulian sosial di lingkungan FEUI, Bapak Pristanto hanya tersenyum kecut, “ Itu mah Cuma omong doang… “. Bagi Bapak Pristanto, jualan bakpo merupakan suatu realitas. Bisa berjualan bakpo di lingkungan kampus pun sudah merupakan keberuntungan bagi beliau. Bukan karena malas, melainkan linkunganlah yang telah menyingkirkan beliau. Tak ada pilihan tepatnya.&lt;br /&gt;Bukan hanya Bapak Pristanto seorang yang tidak terjamah oleh tangan-tangan mahasiswa universitas perjuangan ini. Jauh di kubangan air dalam hutan Universitas Indonesia, berdirilah sosok-sosok Pristanto dengan peran dan lagu yang berbeda. Bapak Dika merupakan salah seorang dari mereka. Ketika penulis menyapa, beliau sedang sibuk memungut ikan-ikan yang tersangkut oleh jala beliau. Dari guratan dahinya, penulis menaksir umur Bapak Dika sedikit lebih tua daripada Bapak Pristanto. Meskipun begitu, beliau terlihat begitu sigap dengan jalanya. “ Byuk… Byuk… Byuk…” jala itu sudah terlempar di pinggiran danau. Sambil menunggu waktu, Bapak Dika menikmati kepulan asap rokok. Di samping beliau terseduh kop hangat. Beliau begitu menikmatinya, seakan sampah-sampah busuk yang memenuhi kubangan air tidak berpengaruh sama sekali. Meskipun tidak menanyakan langsung, bekas api yang ada di sebelah kanan mengisyaratkan dari situlah seduhan kopi itu berasal. Lantas, darimana airnya? Ya…, tentu kita semua bisa menebaknya. Ironis memang bila dibandingkan dengan kemegahan Universitas Indonesia tapi itulah realita yang ada.&lt;br /&gt;Setali tiga uang, nasib Bapak Dika pun juga tidak jauh berbeda dengan Bapak Pristanto. Penghasilan yang mereka dapat seringkali tidak menutupi kebutuhan hidup sehari-hari sebab nominal yang didapat tidaklah seberapa. Hanya sekitar dua puluh ribu sampai tiga puluhan ribu, tidak lebih. Seperti halnya Bapak Pristanto, Bapak Dika pun tidak pernah mengharapkan uluran tangan pihak universitas, baik dari organisasi tingkat fakultas maupun dari rektorat. Bukanya tidak membutuhkan uluran tangan ataupun meragukan kapabilitas dan kredibilitas nama besar Universitas Indonesia, tetapi menunggu memutihnya bulu gagak sama halnya dengan membuang segalanya. Itulah alasan mereka, tidak lebih.&lt;br /&gt;Lantas, bagaimana tindakan saya, anda, dan mereka para mahasiswa untuk menjawab realita yang ada? Penulis tidak tahu. Akan tetapi, pernahkah terbersit dalam pikiran kita bahwa ketika even-even hidonis itu diselenggarakan dengan menghabiskan jutaan rupiah, jauh di sana sosok-sosok Bapak Pristanto, Bapak Dika,dan sosok-sosok lainya yang terbuang sedang menikmati kegetiran hidup? Pernahkah terlintas dalam diskusi-diskusi kita akan keadilan, perjuangan, dan persamaan bermanfaat atau paling tidak berguna bagi mereka? Ah…, sudahlah kita hanyalah manusia. Manusia memang pelupa. Lupa akan pengabdian, lupa akan ketulusan, lupa untuk tidak sombong, dan lupa akan sesama. Terlebih, saya, anda, dan mereka, mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia yang identik dengan kesombongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2208840507222773945-3751409549628046854?l=tempekremes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tempekremes.blogspot.com/feeds/3751409549628046854/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tempekremes.blogspot.com/2009/03/saya-anda-dan-keangkuhan-kita.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2208840507222773945/posts/default/3751409549628046854'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2208840507222773945/posts/default/3751409549628046854'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tempekremes.blogspot.com/2009/03/saya-anda-dan-keangkuhan-kita.html' title='saya, anda, dan KEANGKUHAN kita...'/><author><name>Moch Hasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15068450408359458490</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2208840507222773945.post-5977041421918746039</id><published>2009-01-03T19:28:00.000-08:00</published><updated>2009-01-03T19:32:15.100-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ra weruh wong edan'/><title type='text'>Ekonomi Bebek</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Tak perlu banyak tanya apa yang sebenarnya terjadi di perekonomian Indonesia. Bebek, ya bebeklah yang coock mengambarkan perekonomian Indonesia yang carut marut tak karuan. Mau apa lagi gak ada yang diperbuat kecuali menambah perawatan untuk memeperpanjang masa hidupnya... kasihannn sangat kasihan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2208840507222773945-5977041421918746039?l=tempekremes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tempekremes.blogspot.com/feeds/5977041421918746039/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tempekremes.blogspot.com/2009/01/ekonomi-bebek.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2208840507222773945/posts/default/5977041421918746039'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2208840507222773945/posts/default/5977041421918746039'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tempekremes.blogspot.com/2009/01/ekonomi-bebek.html' title='Ekonomi Bebek'/><author><name>Moch Hasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15068450408359458490</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2208840507222773945.post-8301370504455592610</id><published>2009-01-02T23:33:00.000-08:00</published><updated>2009-03-25T02:38:53.609-07:00</updated><title type='text'>Si Tuan Kera Lagi Gila</title><content type='html'>&lt;div&gt;At this moment we hahe seen a ridiculious show that The Monkey did. Without any respect to human life, The Mongkey have been MONSter OF satan.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2208840507222773945-8301370504455592610?l=tempekremes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tempekremes.blogspot.com/feeds/8301370504455592610/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tempekremes.blogspot.com/2009/01/si-tuan-kera-lagi-gila.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2208840507222773945/posts/default/8301370504455592610'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2208840507222773945/posts/default/8301370504455592610'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tempekremes.blogspot.com/2009/01/si-tuan-kera-lagi-gila.html' title='Si Tuan Kera Lagi Gila'/><author><name>Moch Hasan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15068450408359458490</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
